MASYARAKAT DAN BENDA CAGAR BUDAYA DI KABUPATEN KENDAL

Banyak orang menganggap bahwa Benda Cagar Budaya atau BCB tidak lagi memiliki nilai kebanggaan tertentu yang harus dipertahankan kelestariannya. Kasus-kasus yang diberitakan melalui surat kabar lokal dan nasional memberikan gambaran secara umum bagaimana masyarakat setempat mempersepsikan apa BCB tersebut sehingga keberadaan lebih lanjut BCB tersebut tidak perlu dimaksimalisasikan upaya penjagaan, pemeliharaan, dan pelestariannya. Apakah memang seperti itu persepsi sebenarnya terhadap BCB, tulisan di bawah ini berupaya mengulasnya secara singkat.

Beberapa kejadian di Jawa Tengah telah memperlihatkan bagaimana kepedulian masyarakat terhadap upaya pelestarian BCB. Kita melihat kasus di Kota Salatiga bagaimana eks Gedung Kodim harus dihancurkan untuk kepentingan yang berkaitan dengan ekonomi semata. Padahal masyarakat dan pemkot lokal sudah mengantongi sertifikasi akan status BCB yang dihancurkan tersebut.
Di tempat lain, Kabupaten Kendal mengalami nasib yang serupa. Pemerintah tidak ada niatan baik untuk menjaga keberadaan BCB dengan semestinya. Bangunan SMP 1 Kendal yang berusia lebih dari 100 tahun akhirnya dirobohkan demi kepentingan yang pragmatis. Kota Kendal tak lagi mempunyai keindahan arsitektur sisa bangunan Kolonial Belanda. Padahal, sebagian masyarakat bersepakat bahwa bangunan SMP 1 tersebut merupakan tetenger dan simbol sejarah pendidikan di Kabupaten Kendal. Tidak hanya itu saja gedung sisa peninggalan masa pergerakan yang terletak di jalan pemuda akhirnya juga tinggal kenangan saja. Gedung yang pernah dipergunakan sebagai tempat bersekolah untuk bangunan kelas SMA 1 Kendal akhirnya berganti menjadi rumah walet yang struktur bangunannya sudah berubah sama sekali. Nampaknya upaya penghancuran BCB semakin lama semakin gencar. Pemerintah tidak mampu menutup kemauan elit politik yang berkuasa untuk bekerja sama menghilangkan bangunan yang dianggap mengotori panorma perkotaan. Kalau pun masih ada sisa bangunan BCB tersebut, tetap saja pemerintah tidak mampu menciptakan pemeliharaan yang optimal. Contohnya saja bangunan sisa stasiun kereta api kolonial Belanda yang ada di desa Bugangin Kendal. Banyak bangunan ini yang terlantar dan dianggap tidak mempunyai nilai historis sama sekali. Kita dapat melihat rumah dinas Perumka yang dindingnya terkelupas dengan cat yang tidak pernah diperbaiki dengan sebaiknya. Keadaan bangunan ini sama dengan rumah dinas karyawan PG Cepiring yang terbiarkan tanpa penghuni. Kejayaan PG Cepiring yang mampu mensejahbterakan pegawainya seolah tidak berbekas ketika kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri keruntuhan di sudut-sudut tertentu BCB tersebut.