PEMANFAATAN NOVEL SEBAGAI BAHAN AJAR SEJARAH

Ada anggapan bahwa novel identik dengan karangan fiktif yang tidak bersumber pada fakta sosial dan mental sebagai dasar penceritaan. Dalam novel, bagi sebagian masyarakat mengatakan bahwa alur dan jalan cerita murni ciptaan pengarang yang bertujuan sebagai medium hiburan dan sarana estetika belaka. Namun demikian asumsi-asumsi tersebut layak dipatahkan ketika banyak pakar di bidang ilmu humaniora sengaja menciptakan novel sebagai medium penyampaian pesan kepada publik mengenai suatu keadaan, tokoh, atau peristiwa tertentu. Novel banyak digarap melalui studi yang sarat metode ilmiah, referensi yang luas, dan pengamatan terlibat yang umumnya dilakukan oleh para peneliti profesional.

Kita dapat melihat bahwa novel karangan Umar Khayam yang berjudul Para Priyayi saja pada dasarnya merupakan sebuah dokumentasi historis antropologis tentang sikap, perilaku, dan mentalitas kehidupan priyayi pada masa Belanda, Jepang, dan menjelang episode sejarah kontemporer. Kuntowidjoyo yang profesor sejarah, seringkali membuat novel fiktif yang sebenarnya mengandung pesan historis yang sangat kental. Contohnya, novel Sang Pejinak Ular yang menceritakan kesaksian seorang pegawai negeri terhadap tumbangnya kekuasaan Orde Baru.
Yang tak kalah menariknya adalah karya-karya Romo Mangunwijaya, Pramudya Ananta Toer, Mochtar Lubis, Marah Rusli, Achdiat K. Mihardja, Armijn Pane, Sutan Takdir Alihsyabana, Ahmad Tohari, Ramadhan K.H., Ismail Marahimin, Suparta Brata, dan N.H. Dini yang berupaya merekam semangat jaman, gaya hidup, emosi dan mentalitas kepemudaan, kemarahan dan pemberontakan manusia-manusia pada setting novel yang mereka mengalami proses fiksinisasi namun sangat kentara bahwa novel-novel karya mereka diproduksi dengan proses studi historis, sosiologis, dan antropologis yang cukup lama.
Keterkaitan dengan pembelajaran sejarah, tentu saja ada upaya guru untuk mendekatkan anak didik dengan novel-novel yang umumnya menjadi wilayah kegiatan belajar guru bahasa dan sastra Indonesia. Tak dapat dipungkiri memang banyak tulisan sejarah begitu berat untuk dikonsumsi oeh anak didik. Buku-buku sejarah murni dan pelajaran terasa kaku hingga tidak memudahkan terjadinya transformasi pengetahuan sejarah itu sendiri.
Dengan mengkaji novel yang bersetting sejarah, maka akan terjadinya kemudahan dan kenikmatan anak didik memperoleh fakta-fakta masa lalu. Segala kebosanan terhadap hafalan angka tahun, tokoh, dan peristiwa terobati ketika mereka membaca novel yang bermuatan sejarah tertentu. Anak didik lebih bisa memahami perilaku-perilaku bekas anggota KNIL yang masih loyal dengan pemerintah Kolonial Belanda melalui Burung-Burung Manyar besutan Romo Mangunwijaya, memahami pergulatan intelektual Tirto Adisoerya dan masalah keperempuan dalam Tetralogi novel Pramudya Ananta Toer, kekejaman Jepang dalam persoalan Ianfu dalam Perang pun Usai karangan Ismail Marahimin, perdebatan ideologi marxisme, komunismme, dan Islam dalam Atheis ciptaan Achdiat K. Mihardja, menangkap pesan kemelut pembangunan awal Orde Baru melalui Ladang Perminus-nya Ramadhan K.H., mengambil makna keterpinggiran nasib tokoh-tokoh yang dijadikan tumbal dalam peristiwa kelabu 1965 melalui trilogi Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari.
Banyak pula novel lainnya yang mempunyai relevansi sebagai bahan ajar sejarah di bangku SMA. Namun demikian, tidak otomatis setiap novel pasti mempunyai keterkaitan historis dan dapat dijadikan sebagai bahan ajar. Dalam hal ini perlu ada usaha untuk mengkritisi terlebih dahulu relevansi historis dengan verifikasi internal dan eksternal. Pertama, guru harus mencoba membaca riwayat hidup sang pengarang sebuah novel yang akan dijadikan bahan ajar. Siapa pengarang bersama track record-nya perlu untuk dibaca dan dikaji lebih dahulu apakah pada akhirnya sang pengarang tersebut memiliki kepantasan apa tidak menulis sebuah peristiwa sejarah dalam wujud novel. Kedua, kedekatan penulis novel dengan setting novel yang dibuatnya. Seringkali novelis adalah saksi mata dari sebuah peristiwa. Ia menangkap pergulatan pemuda dan emoji jaman yang semua itu dirangkum dalam novelnya. Semakin dekat hubungan penulis dengan setting semakin kuat aspek sosial dan mentalitas yang terbungkus dalam karya sastranya. Ketiga, pengalaman pengarang. Faktor ini sangat penting mengingat sebuah karya tak bisa dipisahkan dengan karya sebelum dan sesudahnya. Seorang pengarang pasti memiliki eksistensi sikap dan tujuan dari apa yang dikisahkan dalam novel yang sarat dengan pengalaman hidupnya. Keempat, membandingkan novel tersebut dengan buku sejarah baku atau ilmiah. Jika terdapat banyak fakta yang bertentangan antara novel dengan kenyataan sejarah maka sudah pasti novel itu sekedar asal-asalan saja mencatut peristiwa sejarah tertentu untuk menegaskan seolah-olah karangan yang dibuat berdasarkan kisah nyata yang heroik.