PENGARUH PERADABAN BACSON-HOABINH, DONGSON, DAN SAHUYN BAGI PERKEMBANGAN BUDAYA MASYARAKAT INDONESIA: SEBUAH PERSPEKTIF AKULTURATIF

Dalam melihat perkembangan kebudayaan suatu masyarakat, setidaknya ada dua teori besar yang dipergunakan untuk mendeskripsikan dan menganalisisnya. Pertama, tentu saja adalah teori evolutif. Teori ini memandang bahwa perkembangan kebudayaan suatu masyarakat murni terjadi berkat peran serta warga masyarakatnya. Artinya, proses bangun dan tumbuhnya sebuah bangunan kebudayaan masyarakat berasal dari lingkungan internal masyarakat yang bersangkutan tanpa melibatkan interaksi kebudayaan yang berasal dari luar. secara internal ada individu atau sekelompok manusia yang memiliki daya kreatif untuk memunculkan ide, gagasan, tindakan, dan produk fisik budaya yang mampu dihasilkan dalam rangka memberikan kemudahan bagi masyarakat tersebut untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang sedang dihadapinya. Kedua, teori akulturatif dengan berbagai variasinya. Teori ini memandang bahwa sebuah kebudayaan lahir dan berkembang berkat sentuhan, dorongan, dan pengaruh dari kebudayaan luar yang datang. kebudayaan luar yang berhasil menerobos masuk membawa bentukan dan citraan tertentu bagi perkembangan kebudayaan masyarakat asli atau pribumi.

Kedua teori tersebut mempunyai kelebihan dan sekaligus kelemahan dalam menyikapi berkembangnya sebuah kebudayaan masyarakat. Teori pertama lebih menekankan 'kesombongan' aktor lokal dalam memberikan kontribusi sebuah kebudayaan. Teori ini menafikan kontributor kelompok lain yang berasal dari luar komunitasnya. Seolah ada nuansa etnosentrisme dalam melihat perkembangan kebudayaan sendiri. Teori yang kedua tidak lepas pula dari beberapa kelemahan. Kelemahan pertama adalah memandang kekurangmandirian sebuah bangsa atau masyarakat. Masyarakat tertentu dianggap pasip dan selalu menerima sebuah kebudayaan tanpa ada kuasa menolak. Perkembangan budaya masyarakat terjadi karena persentuhan dengan budaya luar. Kedua, terlihat ada nuansa xenosentrisme. Masyarakat sebuah komunitas menganggap bahwa kebudayaan luar lebih agung dan beradab, sehingga justru menafikan kebudayaan lokal yang dimilikinya. Ketiga, masyarakat lokal dianggap tidak beradab dan berbudaya. Adanya pengaruh luar dianggap sebagai berkah yang menolong masyarakat lokal dalam memperbaiki segala macam sistem pengetahuan, religi, peralatan hidup, dan teknologinya.