MENANGKAP JEJAK BAHUREKSO DI SEMINAR NASIONAL SEJARAH

Minggu tanggal 25 Juli 2010, Masyarakat Sejarawan Indonesia Komisariat Kendal berhasil melaksanakan Seminar Nasional Penggalian Peristiwa dan Nilai-nilai Sejarah Lokal sebagai Bahan Pembelajaran Sejarah di Sekolah. Seminar yang bertempat di Pondok Modern Selamat Kendal, berjalan lancar dengan peserta berjumlah 129 orang dari unsur guru SMA/SMK/SMP/MTs dan pemerhati sejarah.

Dalam seminar ini dilantik pula secara resmi pengurus MSI Komisariat Kendal oleh pengurus MSI Cabang Jawa Tengah yang dilakukan langsung oleh ketua umum yaitu Prof. Dr. Singgih Tri Sulistyono, M.Hum. Menurutnya keberadaan organisasi ini setidaknya menjadi wahana bagi para guru dan pemerhati sejarah agar mampu mengangkat peristiwa lokal sebagai aset kebanggan daerah. Lebih lanjut, sebagai ketua MSI Kendal adalah Drs. Tjiptoro, M.Pd dan sekretarisnya adalah Purwanto, S.Pd.

Seminar yang dibuka oleh Kabid PMPTK Drs. Wagiyo, M.Pd menghadirkan pembicara handal dibidangnya. Pembicara pertama adalah Prof. Dr. Singgih Tri Sulistyono, M.Hum dari Undip yang mengedepankan pembahasan pada prinsip sejarah lokal, langkah penelitian, dan penulisan sejarah lokal itu sendiri. Sebaliknya, Prof. Dr. Wasino dari Unnes yang lebih menitiberatkan pada model pembelajaran sejarah lokal yang inovatif. Wasino mengarisibawahi tentang bagaimana strategi, langkah, serta cara menerapkan metode pembelajaran yang mengarah pada pengagalian sejarah dan pemahaman sejarah lokal.

Yang menarik dari kegiatan ini adalah munculnya respon dari peserta yang menyoal tentang keberadaan makam Tumenggung Bahurekso. Minkarto dari SMA Trisula memaparkan tentang keberadaan jejak Bahurekso yang sampai sekarang masih penuh teka-teki. Menurutnya, makam Bahurekso yang paling jelas berada di Lebak Siu Kabupaten Tegal. Bukti pernyatan ini adalah referensi sejarawan Husein Djayadiingrat dan bukti keberadaan makam tersebut yang dikelingi oleh puluhan makam yang sangat mungkin adalah para prajurit mataram yang gugur saat menggempur VOC di Batavia tahun 1628. Meskipun sejarawan H. J. de Graaf menulis tentangnya tewasnya Bahurekso dalam pertempuran di Batavia, tetapi berdasarkan tradisi dan budaya lokal, setiap panglima yang gugur perang pasti langsung dibawa oleh senopati dan prajuritnya dibawa ke belakang garis pertempuran. Pertempuran saat itu langsung selesai. Bahurekso yang luka para tidak mungkin melanjutkan peperangan dan sampai di Tegal langsung segera dimakamkan. Pernyataan dan informasi Minkaryo tersebut, oleh Wasino dijawab dengan memaparkan buku sejarah Kendal yang memperlihatkan perkembangan daerah Kendal semenjak Bahurekso memerintah sampai dengan menjelang zaman kemerdekaan.

Sangat disayangkan, dalam seminar yang dipersiapkan dengan baik ini tidak dihadiri guru SD dan Komisi D DPRD II Kendal. Padahal, melalui temu ilmiah ini, Prof. Wasino berharap sekali para guru SD sudah mampu mencari, menemukan, dan menyampaikan bagaimana sejarah tersebut diterima oleh murid-muridnya.

Dengan kata lain, guru SD adalah tulang punggung awal bagaimana sejarah itu harus disampaikan secara bertahap dalam lingkup lingkungan terkecil sampai meluas. Sebaliknya, jika dihadiri komisi D, setidaknya menjadi langkah awal bagi pembentukan kebijakan yang sarat dengan nilai-nilai lokalitas, budaya, dan sejarah Kabupaten Kendal itu sendiri. Sejarah bukan monopoli guru sejarah, melainkan menjadi bersama suatu masyarakat, demikian kata ketua panitia Purwanto, S.Pd.