SNOW BALL: SEBUAH ALTERNATIF PEMBELAJARAN SEJARAH YANG MENARIK*

Guru yang inovatif pasti berusaha memberikan sebuah kegiatan pembelajaran yang bermakna. Proses kebermaknaan dapat terjadi jika apa yang disajikan oleh guru tersebut memiliki sisi kemenarikan dan sekaligus kesenangan. Apa yang dilakukan guru menjadi sesuatu yang senantiasa ditunggu dan dinanti oleh peserta didik. Jika pada pembelajaran kurikulum yang lalu, guru melakukan ceramah dan menyuruh siswa agar mencatat agar pembelajaran dapat selesai sesuai dengan alokasi waktu yang ada, namun dalam bentuk pembelajaran yang kreatif peserta didik diposisikan sebagai subyek pembelajaran yang tidak hanya duduk pasif semata melainkan mengembangkan pola pembelajaran yang sudah diatur koridornya oleh guru tersebut. Di satu sisi dapat terjadi kegiatan pembelajaran inovatif lebih membutuhkan banyak waktu. Di sisi lain, guru dapat mengembangkan respon dan motivasi peserta didik lebih maksimal.

Salah satu model pembelajaran yang kreatif dan sangat bisa dipergunakan dalam kegiatan pembelajaran sejarah adalah snow ball. Model pembelajaran ini bagian dari kegiatan metode pembelajaran kooperatif dengan pendekatan yang cenderung konstruktivisme. Unsur menarik dari kegiatan belajar ini adalah adanya aspek permainan yang umumnya dilakukan peserta didik ketika mereka sedang beristirahat, yaitu aktivitas membuat bola kertas dan melemparkannya kepada teman-temannya. Adanya bentuk permainan melempar bola kertas ini dengan sendirinya menjadi sesuatu yang melibatkan rasa kenakalan siswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran.

Secara teknis metode ini melibatkan keaktifan peserta didik secara maksimal. Keterlibatan peserta didik menentukan sekali keberhasilan kegiatan belajar ini. Peserta didik merasa bahwa mereka hanya melaksanakan sebuah permainan semata. Namun tanpa disadari, mereka memperoleh materi pelajaran sejarah secara perlahan namun pasti.

Pada dasarnya, dalam pelaksanaan pembelajaran snow ball, peserta didik terlebih dahulu menyiapkan referensi sebanyak-banyaknya. Setelah proses pengumpulan referensi dilakukan, guru mulai membentuk kelompok-kelompok. Setiap kelompok terdapat 4 anggota di dalamnya. Praktis, dalam satu kelas terdapat 10 kelompok yang membahas tema yang sama. Kemudian, masing-masing kelompok tersebut mempersiapkan diri dengan pertanyaan yang akan dilemparkan pada kelompok lainnya. Dalam hal ini mereka melakukan aktivitas membaca dan pencarian informasi yang mengasyikan. Ada dorongan untuk membuat pertanyaan yang tersulit sehingga dapat merepotkan kelompok lainnya untuk menjawabnya. Bahkan kalau bisa, kelompok lain memang tidak dapat menjawab sehingga mendapatkan hukuman yaitu menyanyi. Jika kelompok sudah menyiapkan sebuah pertanyaan, mereka lalu membuat kertas yang berisi pertanyaan menjadi bola kertas yang bisa dilemparkan pada kelompok lain. Bola kertas itu sengaja dilemparkan pada kelompok yang dituju. Kelompok yang menerima bola kertas itu harus menjawab dalam hitungan menit yang sudah ditentukan. Maksimal waktu yang dibutuhkan untuk menjawab adalah 8 menit. Ketika kelompok tersebut menjawab, maka kelompok yang melempari bola kertas sudah memiliki kunci jawaban terlebih dahulu untuk mengontrol dan mengecek kebenaran jawaban dari kelompok lain tersebut. Jika jawabannya salah maka dapat dihukum dan jika jawabannya benar akan mendapatkan aplaus dari semua kelompok.

Memang, setiap model pembelajaran pasti memiliki kelemahan-kelemahan. Kelemahan yang nampak dari kegiatan ini adalah kelas jelas lebih riuh, ramai, dan agak kacau-balau pada kegiatan pembelajarannya dibandingkan dengan kelas yang kegiatan belajarnya konvensional saja. Pada saat aksi melempar bola kertas saja dapat terlihat respon kelompok lain yang penuh kegirangan. Apalagi pada saat kelompok tertentu memberikan jawaban yang salah dan harus dihukum dengan bernyanyi, tentu saja kelas akan meledak nuansa kegirangan dan suara tertawa yang terbahak-bahak.

Namun demikian, hal itu wajar dan merupakan dinamika pembelajaran. Kelas yang ramai bukan sesuatu yang tabu lagi asal ada kesengajaan untuk memformat dan mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan bersama.

Dalam pembelajaran sejarah, semua materi dapat dipergunakan dengan metode ini. Hanya saja, perlu kiranya guru memeprgunakan pada materi yang benar-benar sesuai dengan karakteristik model pembelajarannya. Materi yang lingkup kajiannya luas mungkin dianjurkan untuk memakai model pembelajaran ini. Contohnya adalah materi kelas XI dari persoalan masuknya agama Hindu-Buddha, Kerajaan Islam, penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, sampai dengan peristiwa revolusi fisik dan demokrasi liberal maupun parlementer.

   Singkat kata, tak ada model pembelajaran yang terbaik dan pantas bagi semua materi sejarah yang disampaikan oleh guru di dalam kegiatan belajar. Semua model tentu saja memiliki beberapa aspek kelebihan dan kelemahan masing-masing. Tugas gurulah yang pandai memilah, menambah, memodifikasi, atau memberi sentuhan inovatisi pada model yang dipergunakan agar siswa dapat menambah semangat untuk terus mempelajari sejarah.


*Muslichin, S.S., M.Pd, guru sejarah SMA Negeri 2 Kendal.