Kajian dan Analisis Struktur Fisik Puisi Senja di Pelabuhan Kecil

Berdasarkan kajian pada struktur fisik dapat diketahui lebih jauh mengenai gambaran puisi ini. Tokoh Aku pada puisi tersebut tampaknya merupakan
Kajian dan Analisis Struktur Fisik Puisi Senja di Pelabuhan Kecil
Kajian dan Analisis Struktur Fisik Puisi Senja di Pelabuhan Kecil

Struktur Fisik

Berdasarkan kajian pada struktur fisik dapat diketahui lebih jauh mengenai gambaran puisi ini. 
Tokoh Aku pada puisi tersebut tampaknya merupakan tokoh tunggal, peyair menyebut hanya satu kali pada puisi tersebut , yaitu pada kalimat "Aku sendiri".

Karena bait demi bait dan larik dami larik pada tersebut tidak berdiri sendiri, maka banyak ditemukan enjambemen. 

Aspek Bunyi

sementara dari  aspek bunyi , puisi tersebut terdapat  beberapa persamaan bunyi  akhir baik persamaan bunyi  akhir vokal maupun persamaan bunyi akhir konsonan. 
Persamaan pada bunyi akhir vokal yaitu pada bait pertama di larik pertama dan kedua terdapat persamaan yaitu bunyi akhir "a" pada kata "cinta dan cerita". 
Persamaan bunyi akhir konsonan yaitu terdapat pada bait pertama di larik ketiga dan keempat terdapat persamaan bunyi akhir konsonan "t" pada kata "berlaut dan berpaut". 

Sedangkan pada bait kedua terdapat persamaan bunyi akhir konsonan yaitu persamaan bunyi akhir konsonan "ng" pada larik pertama dan kedua pada kata "elang dan berenang". 
Dan pada larik larik ketiga dan keempat terdapat persamaan bunyi akhir konsonan "k" pada kata "bergerak dan ombak". 
Sedangkan pada bait ketiga terdapat persamaan bunyi akhir konsonan "n" pada kata "berjalan dan jalan" dan pada larik kedua dan kempat terdapat persamaan bunyi akhir konsonan "p" pada kata "harap dan terdekap".

Masih berkenaan dengan aspek bunyi, pada puisi tersebut terdapat beberapa persamaan bunyi baik berupa aliterasi maupun asonansi. 
Persamaan bunyi akhir berupa asonansi "a" pada bait pertama larik ketiga pada kata "tua, pada dan cerita", pada bait kedua larik kedua terdapat persamaan bunyi asonansi "I" pada kata "hari dan Pagi". 
Kemudian pada bait ketiga larik larik keempat terdapat persamaan buyi akhir asonansi "I" pada kata "dari dan pantai". 
Pada bait pertama larik larik keempat terdapat persamaan bunyi berupa aliterasi "d" pada kata "diri dan dalam" dan persamaan bunyi aliterasi "m" pada kata "mempercayai dan mau". 
Pada bait kedua larik kedua terdapat persamaan bunyi berupa aliterasi "m" pada kata "menyinggung dan muram". 
Kemudian pada bait ketiga terdapat persamaan bunyi berupa "s" larik ketiga pada kata "sekalian dan selamat".

Secara keseluruhan pada puisi Senja di Pelabuhan Kecil ditemukan unsur bunyi yang bernada rendah dan sedih, hal ini tampaknya serasi dengan yang ingin diungkapkan penyair pada puisi ini. 
Puisi tersebut membicarakan mengenai seseorang yang patah hati karena cintanya ditolak. Penyair memilih vokal a karena terasa berat dan rendah dan konsonan t, ng, k, n, dan p lebih cocok untuk melukiskan suasana yang sendu.

Majas

Mengenai pemajasan, pada puisi tersebut terdapat majas personifikasi seperti pada ungkapan "ini kali tidak ada yang mencari cinta, kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri, Gerimis mempercepat kelam, desir hari lari berenang, tanah dan air tidur hilang ombak". 
Personifikasi majas yang meletakkan sifat insani yang tidak bernyawa idea yang abstrak. Dan terdapat majas hiperbola  pada ungkapan "ada juga kelepak elang yang menyinggung muram, menyisir semenanjung". 
Majas hiperbola ini memberikan gambaran bahwa seseorang yang patah hati karena cintanya ditolak seperti tidak mungkin mendapatkan cintanya bersama seorang wanita. 

Pencitraan

Dari segi pencitraan puisi tersebut terdapat citraan gerakan. 
Citraan gerakan yang terdapat citraan penglihatan yang terdapat pada kalimat "kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri, desir hari berenang, tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak, berjalan menyisir semenanjung". 

Dominannya citraan gerakan tersebut di atas sangat sesuai dengan apa yang disampaikan penyair melalui puisi tersebut.
Yaitu mengenai patah hati seseorang yang cintanya ditolak. Hal ini juga meperlihatkan bahwa baik aspek bunyi, pilihan kata, majas, maupun citraan yang dikemukakan oleh penyair tampak berkaitan sehingga menjadi sebuah struktur puisi yang merupakan satu-kesatuan yang utuh.