-->

Klausa dalam Bahasa Indonesia


A.    Klausa dan Unsur-Unsurnya

Pada hakikatnya klausa juga mempunyai frasa (kelompok kata), hanya saja  salah satu unsur intinya berfungsi sebagai predikat.

Cook (1971) mendefinisikan klausa sebagai frasa yang mengandung satu unsur predikat. Ramlan (1981) mendefinisikan bahwa klausa sebagai satuan gramatikal yang terdiri dari predikat baik disertai unsur lain yang berfungsi sebagai subjek, objek, pelengkap,keterangan atau tidak.

Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa suatu satuan gramatik atau konstruksi bahasa dikatakan  klauasa apabila konstruksi tersebut memiliki syarat sebagai berikut:
1. Terdiri dua kata atau lebih
2. Minimal memiliki unsur inti berupa subjek dan predikat
3. Unsur minimal di atas dapat ditambah atau dilengkapi dengan satu atau lebih unsur bukan inti seperti objek, pelengkap dan keterangan.

Suatu unsur konstruksi bahasa akan dikenali sebagai subjek apabila unsur tersebut menandai  apa yang dikatakan oleh pembicara (penulis). Fungsi subjek biasanya berada di depan (sebelah kiri predikat) dan biasanya berupa nomina (benda) atau frasa nomina (frasa benda).

Suatu unsur akan dikenali sebagai predikat jika unsur tersebut menandai apa yang dikatakan oleh pembicara tentang subjek. Predikat pada umumnya berada di sebelah kanan subjek dan berkategori  verba, nomina, adjektiva dan numeralia.

Contoh: Hasan belajar

Unsur  yang merupakan subjek pada contoh di atas adalah Hasan dan terdiri atas kata berupa nomina. Unsur yang merupakan predikat  pada contoh di atas adalah belajar. Unsur belajar pada contoh di atas merupakan sesuatu yang ingin dikatakan oleh penulis tentang Hasan.

Objek merupakan unsur klausa yang dapat dibedakan atas objek langsung dan objek tak langsung. Objek langsung adalah nomina atau frasa nominal yang melengkapi verba transitif yang dkenali oleh pebuatan yang dinyatakan oleh predikat verba atau yang ditimbulkan sebagai hasil perbuatan yang terdapat dalam predikat verbal.

Objek langsung dibedakan dua jenis, yaituobjek (langsung) afektif dan objek (langsung) efektif. Objek (langsung) afektif adalah objek langsung yang dikenali oleh perbuatan yang terdapat dalam predikat verbal, tetapi tidak  merupakan hasil perbuatan itu.

Contoh : Mereka menyampuli surat.

Kata surat pada kalimat di atas adalah objek langsung afektif karena kata tersebut merupakan sesuatu yang dikenai perbuatan yang terdapat dalam predikat verbal, yaitu menyampuli. Objek (langsung) efektif adalah objek langsung yang ditimbulkan sebagai hasil perbuatan yang terdapat dalam predikat verbal.

Contoh : Mereka menulis surat.

Kata surat pada contoh di atas adalah objek (langsung) efektif karena kata tersebut merupakan hasil pekerjaan menulis.

Objek tak langsung adalah nomina yang menyertai verba transitif dan menjadi penerima atau diuntungkan oleh perbuatan yang terdapat dalam predikat verbal.

Contoh : Ibu membuatkan Susi baju.

Kata Susi adalah objek tak langsung karena kata tersebut merupakan sesuatu yang diuntungkan dari perbuatan membuatkan atau membuat.

Pelengkap (komplemen) adalah nomona, frasa nominal, adjektiva, atau frasa adjektival yang merupakan bagian dari predikat verba yang menjadikannya predikat yang lengkap. 

Unsur pelengkap tidak dapat dihilangkan dari predikatnya, karena ika dibandingkan maka konstruksi bahasa itu tidak bisa diterima.

Contoh : Kakaknya seorang polisi.

Kata polisi berkategori nomina dan merupakan bagian dari predikat sehingga tidak dapat dipisahkan dari predikat.

Berdasarkan hubungan antara pelengkap dengan unsur lain seperti subjek dan objek, maka pelengkap dibagi beberapa jenis , yaitu :

  1. Pelengkap subjek
  2. Pelengkap objek
  3. Pelengkap pelaku, yakni nomina/frasa nominal yang melengkapi predikat verba pasif dan secara semantis merupakan pelaku.
  4. Pelengkap musabab, yaitu nomina/frasa nominal yang melengkapi verba pasif berkonfiks ke-an atau ber-V-kan yang bermakna menderita.
  5. Pelemgkap hiponimi, yaitu berupa nomina yang secara semantis merupakan spesifikasi dari nomina yang terdapat dalam predikatnya.
  6. Pelengkap resiprokal, yaitu berupa nomina/frasa nominal yang melengkapi verba resiprokal.
  7. Pelengkap pemeri, yaitu adjektiva , frasa adjektiva, numeralia, atau frasa numeralia yang memerikan numeralia dalam predikatnya.


Keterangan di dalam klausa berfungsi untuk meluaskan atau membatasi makna subjek dan predikat. Keterangan terbagi beberapa jenis, diantaranya adalah :

  1. Keterangan akibat, adalah unsur yang merupakan akibat terjadinya predikat.
  2. Keterangan alasan, merupakan unsur yang menyatakan alasan terjadinya predikat.
  3. Keterangan alat, merupakan nominal atau frasa nominal yang menyatakan alat yang dipakai untuk melakukan tindakan yang dinyatakan oleh predikat.
  4. Keterangan asal, merupakan unsur yang menyatakan bahan yang terbuatnya predikat.
  5. Keterangan kualitas, merupan unsur yang menyatakan bagaimana atau dalam kaitan apa predikat.
  6. Keterangan kuantitas, suatu unsur yang menyatakan jumlah derajat , keterangan atau perbandingan antara predikat dan unsur lain.


3. Jenis-jenis Klausa

Klausa dapat dibagi menjadi beberapa jenis jika ditinjaudari sudut pandang tertentu. Pembagian yang berbeda sudut pandangnya akan menghasilkan jenis klausa yang berbeda meskipun memiliki bentuk yang sama.

a. Berdasarkan kelengkapan unsur-unsur intinya, klausa dapat dibagi menjadi dua jenis:
1. Klausa lengkap, klausa yang memiiki unsur inti yang lengkap, yaitu S dan P.
Contoh : Dia sedang belajar.

2. Klausa tidak lengkap, adalah klausa yang hanya memiki P sebagai unsur intinya, sedang S-nya baru tampak jika dihubungkan dengan konstruksi sebelumnya.

Contoh : Lima orang (sebagai jawaban atas pertanyaan : ‘anggotamu berapa orang?’)

b. Berdasarkan struktur internnya, klausa lengkap dapat dibedakan menjadi dua :
  1. Klausa lengkap yang berstruktur runtut (S di depan P)
  2. Klausa lengkap yang berstruktur inversi (S di belakang P)
Berdasarkan ada tidaknya kata negatif terhadap unsur yang menduduki fungsi P, klausa dapat dikelompokkan menjadi dua jenis :

  1. Klausa positif. Contoh : Dia anggota PMR.
  2. Klausa negatif. Contoh : Dia bukan anggota PMR.


d. Berdasarkan ketegori  unsurnya, klausa dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu :
  1. Klausa kerja, yaitu klausa yang unsur pengisi P-nya berkategori kerja. Contoh : Petani itu membajak sawahnya.
  2. Klausa benda. Contoh : Orang tuanya guru SD.
  3. Klausa sifat. Contoh : Udaranya sangat panas.
  4. Klausa bilangan. Contoh : Anak buahnya banyak.
  5. Klausa preposisional. Contoh : Ia di rumah.


Berdasarkan hubungan aktor-aksi, klausa kerjadapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu :
  1. Klausa kerja aktif, yaitu klausa yang subjeknya berperan sebagai aktor dan predikatnya berperan sebagai tindakan aktif.
  2. Klausa pasif, yaitu klausa yang subjeknya berperan sebagai penderita
  3. Klausa kerja refektif (medial), yaitu klausa yang subjeknya berperan sebagai pelaku dan sekaligus berperan sebagai penderita.
  4. Klausa kerja resiprokal, yaitu klausa yang subjeknya melakukan tindakan yang berbalas-balasan (saling).


Berdasarkan perlu tidaknya objek yang mengikuti verba, klausa kerja aktif dapat dibagi menjadi tiga jenis :
  1. Klausa kerja aktif transtif, yaitu klausa kerja yang memerukan objek.
  2. Klausa kerja aktif semi transitif, yaitu klausa kerja aktif yang tidak memerlukan objek tetapi memerlukan pelengkap.
  3. Klausa kerja intrasitif, yaitu klausa kerja yang tidak memerlukan objek dan pelengkap.


Berdasarkan distribusi unsur-unsurnya, klausa dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
  1. Klausa bebas adalah klausa yang dapat berdiri sendiri sebagai kalimat sempurna, artinya klausa tersebut tidak bergantung atau menjadi bagian dari konstruksi yang lebih besar. Contoh : Tantri sangat sedih.
  2. Klausa terikat, yaitu klausa yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai kalimat sempurna, bergantung pada konstruksi lain, dan merupakan bagian dari konstruksi lain. Contoh : Meskipun Ia belum dewasa.