Perlawanan Diponegoro terhadap Kolonialisme Belanda (1825-1830)

Pangeran Diponegoro memiliki nama kecil Raden Mas Ontox wiryo. Beliau adalah putra dari Sultan Hamengkubuwono III dari Garwa Ampeyan. Beliau lahir pada tanggal 11 NoVember 1785. Ketika Diponegoro masih belia, di Keraton Yogyakarta banyak terjadi kekacauan yang diaibatkan campur tangan Belanda dalam urusan dalam negeri mataram. Pada tahun 1817, ayahnya, Sultan Hamengkubuwono Ill wafat. Diponegoro adalah anak sulung, namun bukan anak dari permaisuri sehingga tidak berhak menjadi raja Adapun yang menjadi raja adalah Mas Djarat atau Pakubuwono  Beliau sendiri kemudian memilih hidup di Desa Tegalrejo. Keputusan ini disebabkan ketidaksukaannya melihat cara hidup kaum bangsawan yang menjadi kaki tangan Belanda.

Meski Diponegoro sudah tidak tinggal di istana Yogyakarta, tetapi beliau kritis terhadap kelicikan dan kekejaman Belanda terhadap rakyat. Hal inilah yang menjadi salah satu sebab beliau memutuskan untuk melawan mereka. Adapun sebab-sebab lainnya adalah sebagai berikut.

1) Sebab umum .

a) Penderitaan rakyat akibat pemungutan pajak.
b) Campur tangan Belanda dalam urusan internal Mataram.
c) Kebijakan van der Cappellen yang melarang penduduk menyewakan tanah ke swasta.
d) Kemerosotan akhlak akibat penetrasi budaya Belanda seperti minuman keras.

2) Sebab khusus

Penyebab khusus Perang'Diponegoro terjadi pada tahun 1825, yaitu ketika Belanda hendak membuka jalan baru dari Yogyakarta ke Magelang melalui Tegalrejo, tempat makam leluhur Diponegoro berada. Dalam pembukaan jalan tersebut, Belanda menancapkan patok-patok di areal makam leluhur tanpa izin. Kejadian ini tentu saja membuat Pangeran Diponegoro marah. Beliau kemudian mencabut patok tersebut dan diganti dengan tombak. Belanda menganggap tindakan pangeran Diponegoro itu sebagai tindakan pembangkangan.

Untuk menghukumnya, Residen Smisaert mengirim Pangeran Mangkubumi supaya membujuk Diponegoro meminta maaf kepada Belanda. Permintaan tersebut tentu ditolak Diponegoro, menariknya saat itu Mangkubumi ikut betgabung dengannya. Atas tindakannya itu, maka pada tanggal 20 Juli 1825 Belanda dengan dibantu Patih Danurejo IV menyerang kediaman Diponegoro. Pada kesempatan ini, beliau berhasil melarikan diri ke Selarong bersama Mangkubumi dan Pangeran Ronggo.

Dalam perjuangan melawan Belanda, beliau dibantu oleh pangeran Mangkubumi, Joyo Kusumo, Kyai Mojo, H. Badarudin, H. Mustopo, dan Sentot Alibasyah Prawirodirjo. Pasukan Diponegoro melancarkan pertempuran gerilya, dan antara tahun 1825-1826 pasukan ini dapat menguasai daerah Pacitan, Purwodadi, dan Delanggu.

Melihat perlawanan Diponegoro yang semakin hebat, Jenderal de Kock mulai melaksanakan siasat baru untuk menghadapinya, yaitu dengan menggunakan strategi Benteng Stelsel. Tujuan sistem ini adalah untuk mempersempit ruang gerak pasukan lawan dengan jalan mendirikan benteng-benteng penghadang. Taktik lain yang dijalankan Belanda adalah melalui perundingan, namun usaha ini selalu mengalami kegagalan.

Pasukan Diponegoro mulai melemah pada saat banyaknya pemimpin-pemimpin pasukan yang tertangkap oleh Belanda; seperti Pangeran Suryomataram dan Ario Prangwadono. Penambahan pasukan pun dilakukan oleh Belanda sehingga Belanda berhasil mendesak kekuatan pasukan Diponegoro. Pada perkembangan selanjutnya, satu per satu pimpinan pasukan Diponegoro berhasil dibujuk, misalnya:

1) Kyai Mojo ditangkap dan diasingkan ke Minahasa,

2) Mangkubumi menyerah pada tanggal 27 September 1829 karena keselamatan keluarganya diancam Belanda;

3) Sentot Prawirodirjo menyerah pada tanggal 17 Oktober 1829;

4) Pangeran Dipokusumo yang merupakan putra Pangeran Diponegoro menyerah pada tanggal 8 Januari 1830.

Meski menghadapi posisi yang sulit, pasukan Diponegoro belum menyerah. Usaha lain yang dilakukan Belanda adalah mengadakan sayembara penangkapan Diponegoro dengan hadiah sebanyak 20.000 ringgit, namun lagi-lagi cara ini pun gagal. Diponegoro akhirnya bersedia menerima ajakan Belanda melalui Kolonel Cleerens untuk berunding'di rumah residen Kedu di Magelang pada tanggal 25 Maret 1830. Jenderal de Kock, secara rahasia memberi instruksi untuk menangkap Diponegoro apabila perundingan gagal. Perundingan” yang diadakan pada tanggal 28 Maret 1830 ternyata memang mengalami kegagalan. Sesuai instruksi, Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Menado dan kemudian ke Makassar. Di sinilah beliau meninggal pada tanggal 8 Januari 1855 dalam usia lebih kurang 70 tahun.