-->

Dampak Orangtua Merantau Terhadap Anak Yang Ditinggal

Orang tua yang merantau secara positif dapat mempengaruhi kualitas hidup anak-anak. Anak-anak hidup dalam kondisi yang lebih baik, termasuk seperti rumah yang diperbaiki dan dilengkapi. Anak-anak memiliki sumber daya keuangan untuk membeli pakaian mahal dan berbagai barang, untuk menghibur diri sendiri. Selain itu anakanak memiliki keuntungan untuk menikmati berbagai barang seperti komputer pribadi, perekam audio, telepon seluler dan lainnya, yang biasanya sulit bagi teman-teman sebayanya untuk mendapatkan barang tersebut (UNICEF dalam Prihantini, 2015). 

Komunikasi menjadi suatu hal yang penting bagi perantau untuk sekedar menanyakan kabar atau memantau anaknya, biasanya perantau lakukan dengan menggunakan telepon Orang tua yang merantau memiliki dampak negatif di samping dampak positif. Dampak negatif terutama terhadap anak yang ditinggalkan. Bakker, Elings-Pels, dan Reis dalam Prihantini (2015) menyebutkan dampak dari remaja yang ditinggal orang tuanya merantau, remaja memiliki problem psikososial yang diakibatkan dari tidak terbentuknya kelekatan anak dengan orang tua. UNICEF dalam Prihantini (2015) memaparkan beberapa dampak psikologis pada anak-anak di Moldova yang ditinggal merantau orang tuanya, antara lain kurang mampu dalam mengembangkan kemampuan pribadi dalam mengatasi kesulitan di kehidupan dewasanya, seperti kemandirian dalam pengambilan keputusan, kepercayaan diri, manajemen waktu dan pengendalian emosi. 

Dampak dalam bidang intelektual, seperti hilangnya minat sekolah dan kemunduran prestasi akademik. Kurangnya motivasi untuk belajar dapat memiliki konsekuensi negatif pada pendidikan anak tersebut. Kerentanan terhadap penyalahgunaan narkoba yang disebabkan oleh tekanan dari teman-teman sebayanya. UNICEF secara lebih lanjut memaparkan bahwa perasaan anak-anak yang ditinggal orang tuanya merantau dapat menimbulkan sebuah kompleks rendah diri. Hal tersebut dapat memiliki konsekuensi negatif pada keluarga anak-anak di masa depan. 

Penelitian yang dilakukan oleh Bakker, Elings-Pels and Reis dalam Prihantini (2015) mengemukakan bahwa kegiatan merantau di Karibia memiliki dampak negatif besar pada keluarga, khususnya pada anak. Anak-anak yang telah ditinggalkan berada pada situasi rentan secara psikososial dan pendidikan mereka. Mereka berada pada risiko yang lebih tinggi dan lebih rentan terhadap pelecehan, penelantaran dan eksploitasi termasuk kekerasan seksual, pekerja anak dan perdagangan. Anak-anak yang ditinggalkan banyak yang menderita depresi dan rendah diri yang dapat mengakibatkan masalah perilaku seperti terlibat dalam kekerasan dan kejahatan atau melarikan diri dari rumah.