-->

Guru sebagai Motivator Belajar

Motivator adalah orang yang memiliki profesi atau pencaharian dari memberikan motivasi kepada orang lain. KBBI mendefinisikan motivator adalah orang (perangsang) yang menyebabkan motivasi orang lain untuk melaksanakan sesuatu, pendorong, penggerak. Pengertian Guru Sebagai Motivator artinya guru sebagai pendorong siswa dalam rangka meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa. Sering terjadi siswa yang kurang berprestasi, hal ini bukan disebabkan karena memiliki kemampuan yang rendah, akan tetapi disebabkan tidak adanya motivasi belajar dari siswa sehingga ia tidak berusaha untuk mengerahkan segala kemampuannya. 

Dalam hal seperti di atas guru sebagai motivator harus mengetahui motif-motif yang menyebabkan daya belajar siswa yang rendah yang menyebabkan menurunnya prestasi belajarnya. Guru harus merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk membangkitkan kembali gairah dan semangat belajar siswa. 

Pembelajaran yang yang baik manakala berorientasi kepada siswa dengan tujuan agar dapat menimbulkan motivasi pada diri siswa. Maksudnya bahwa motivasi siswa dapat timbul tanpa perlu adanya rangsangan dari luar karena di dalam diri mereka sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Misalnya siswa yang memiliki minat membaca. Timbulnya minat membaca dari dalam diri siswa atas kesadarannya sendiri. Ia rajin mencari buku-buku yang ingin dibacanya. Keinginan untuk membaca timbul karena dorongan dan kesadaran dari dalam dirinya sendiri, jadi siswa tidak terus-terusan dijejali dengan perintah atau instruksi untuk melakukan aktivitas membaca. Namun dalam kenyataannya siswa sering mengalami lelah, jenuh, bosan dan tidak memiliki kegairahan dalam belajar dengan beberapa alasan yang bisa muncul setiap saat. 

Disinilah unsur guru sangat penting dalam memberikan motivasi, mendorong dan memberikan respon positif guna membangkitkan kembali semangat siswa yang mulai menurun. Guru bertindak sebagai alat pembangkit motivasi (motivator) bagi peserta didiknya. Guru Sebagai motivator hendaknya menunjukkan sikap sebagai berikut :

  1. Bersikap terbuka, artinya bahwa seorang guru harus dapat mendorong siswanya agar berani mengungkapkan pendapat dan menanggapinya dengan positif. Guru juga harus bisa menerima segala kekurangan dan kelebihan tiap siswanya. Dalam batas tertentu, guru berusaha memahami kemungkinan terdapatnya masalah pribadi dari siswa, yakni dengan menunjukkan perhatian terhadap permasalahan yang dihadapi siswa, dan menunjukkan sikap ramah serta penuh pengertian terhadap siswa. 
  2. Membantu siswa agar mampu memahami dan memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya secara optimal. Maksudnya bahwa dalam proses penemuan bakat terkadang tidak secepat yang dibayangkan. Harus disesuaikan dengan karakter bawaan setiap siswa. Bakat diibaratkan seperti tanaman. Karena dalam mengembangkan bakat siswa diperlukan “pupuk” layaknya tanaman yang harus dirawat dengan telaten, sabar dan penuh perhatian. Dalam hal ini motivasi sangat dibutuhkan untuk setiap siswa guna mengembangkan bakatnya tersebut sehingga dapat meraih prestasi yang membanggakan. Ini berguna untuk membantu siswa agar memiliki rasa percaya diri dan memiliki keberanian dalam membuat keputusan. 
  3. Menciptakan hubungan yang serasi dan penuh kegairahan dalam interaksi belajar mengajar di kelas. Hal ini dapat ditunjukkan antara lain, menangani perilaku siswa yang tidak diinginkan secara positif, menunjukkan kegairahan dalam mengajar, murah senyum, mampu mengendalikan emosi, dan mampu bersifat proporsional sehingga berbagai masalah pribadi dari guru itu sendiri dapat didudukan pada tempatnya. 
  4. Menanamkan kepada siswa bahwa belajar itu ditujukan untuk mendapatkan prestasi yang tinggi atau agar mudah memperoleh pekerjaan, atau keinginan untuk menyenangkan orang tua, atau demi ibadah kepada Allah, dan masih banyak lagi hal lain yang dapat dijadikan motivasi demi ditumbuhkannya minat belajar siswa.
  5. Sikap aktif dari subjek belajar (siswa) mutlak diperlukan karena minat belajar itu seharusnya dapat tumbuh dari dalam diri subjek belajar sendiri dengan atau tanpa bantuan orang lain, melalui penekanan pemahaman bahwa belajar itu ada manfaatnya bagi dirinya. 


Untuk menumbuhkan minat belajar siswa, guru juga perlu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif agar proses belajar di ruang kelas dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang diinginkan dan menyenangkan. Dengan kata lain, siswa akan memiliki motivasi yang besar dalam mengikuti proses belajar mengajar di ruang kelas. Lingkungan belajar kondusif yang dimaksudkan adalah: Suasana santai dan nyaman, Berinteraksi dengan lingkungan sekitar, Mengembangkan dan mempertahankan sikap positif. (Bobby De Porter dan Mike Hernacki: 2001:65-67) 

Suasana santai dan nyaman sangat tergantung kepada perabotan yang ditata, kuat dan lemahnya pencahayaan, temperatur atau suhu udara yang melingkupinya, tanaman yang menghiasi lingkungan belajar, dan suasana hati siswa secara umum. Beberapa hal tersebut dianggap sangat esendial karena suasana santai dan nyaman ini dapat mempengaruhi mood dan menjadi pemicu agar siswa mau bersikap terbuka terhadap guru mereka. 

Interaksi dengan lingkungan yang sangat penting diwujudkan karena dalam interaksi dengan lingkungan dapat ditemukan sumber-sumber belajar yang baru yang dapat digunakan sebagai upaya pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Di sini berarti guru dalam melaksanakan pembelajaran dituntut untuk mengadakan interaksi keilmuan antara teori yang diajarkan dengan realita. Sementara itu mengembangkan dan mempertahankan sikap positif terutama terhadap diri sendiri, dimaksudkan agar siswa dapat memiliki sikap yang positif. Di sini siswa harus mampu menumbuhkan sikap positif dalam dirinya karena jika menungu orang lain, termasuk guru, untuk memberikan respon positif terkadang sulit ditemui. 

Dengan kata lain, semua peristiwa yang muncul harus dihadapi siswa dengan sikap positif. Ada kiat yang dapat dikembangkan dalam menumbuhkan sikap positif pada diri sendiri, yaitu beranilah untuk memuji diri sendiri dan tanamkan bahwa kita bisa dan pasti bisa. Selain ketiga hal di atas, ada hal lain yang perlu dilakukan seorang guru sebagai motivator belajar siswa, yaitu memajang hasil pekerjaan siswa yang baik dan pekerjaan siswa yang belum berhasil. (Conny Semiawan, et al: 1992 : 93) Hal ini dimaksudkan agar pekerjaan yang dianggap telah baik dapat terus dipertahankan, sedangkan pekerjaan yang dianggap kurang berhasil dapat diperbaiki dengan prestasi yang lebih baik. 

Teori psikologi behaviorisme memandang bahwa hasil tes yang baik dan yang segera diketahui oleh siswa yang bersangkutan akan menjadi pengalaman yang menyenangkan dan mempunyai efek memperkuat dorongan untuk belajar kembali. Dengan kata lain, memperoleh nilai yang baik itu merupakan suatu rewarding learning experience, yaitu pengalaman belajar yang menyenangkan. 

Kita semua terbiasa dengan konsep kalimat take and give, dimana kita akan memberi ketika kita sudah mendapatkannya. Ketika kita memperoleh sesuatu, kita pun suatu saat harus merelakan memberikan sesuatu terhadap apa yang sudah kita keluarkan. Namun jarang sekali terpikir untuk membalik proses tersebut, Sekilas memang nampak aneh didengar, tetapi sudah banyak orang yang melakukan ini. 

Seiring dengan ide itu, sosok guru merupakan peran sentral dalam dunia pendidikan. Korelasi antara konsep give and give dapat diibaratkan seorang guru yang menjalankan tugasnya dengan selalu memberikan pengajaran yang terbaik tanpa mengharapkan balasan. Ia selalu memberikan potensi dirinya dan mendedikasikan untuk mengajar dengan penuh hati, tulus, ikhlas serta memberikan kejutan menggembirakan untuk siswa-siswanya. Ini seperti teori kekekalan energi bahwa energi yang ada di alam ini tidak akan hilang, melainkan hanya berubah bentuk. Bila seseorang memberikan suatu kebajikan dengan ikhlas, seiring dengan berjalannya waktu, ia akan dengan sendirinya memperoleh penggantinya baik itu berupa materi ataupun kepuasan batin. Begitu besar manfaat bila kita bisa memberi dengan ikhlas, apapun bentuknya. Ternyata, alam memiliki mekanisme sendiri untuk mengembalikan pemberian tersebut. 

Dengan membiasakan pola pikir give and give, siswa akan terbiasa untuk berbagi kepada orang lain. Baik itu perhatian, spirit, doa, materi, tenaga, atau apa pun kepada orang yang membutuhkan. Selain orang yang kita bantu akan merasa senang, kita pun pasti akan merasa senang.