Pendekatan Pembelajaran Model-Eliciting Activities Mata Pelajaran Matematika

Salah satu pendekatan yang dapat merangsang siswa untuk memodelkan permasalahan ke bentuk model matematika adalah Model-Eliciting Activities (MEAs). Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr Lesh dan mahasiswanya yang merasakan perkembangan model pemahaman siswa secara signifikan yang merupakan proses belajar matematika (Chamberlin, 2005: 4). 

Oleh karena itu, pada materi Program Linear ini menggunakan pendekatan MEAs agar siswa dapat menentukan model matematika dari suatu soal cerita. Pembelajaran Model-Eliciting Activities (MEAs) didasarkan pada permasalahan kehidupan nyata siswa, bekerja dalam kelompok kecil, dan menyajikan suatu model matematis sebagai solusi. 

Model yang dibuat oleh siswa selanjutnya diukur ketepatannya dalan kegiatan presentasi. Kemampuan matematika yang akan diteliti dalam hal ini adalah kemampuan pemecahan masalah. Siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah pasti akan menggunakan prosedur pemecahan masalah secara logis dan rasional. 

Pada materi Program Linear, setelah memperoleh model matematika maka siswa harus menemukan solusi dan cara menemukan solusi tersebut harus melalui prosedur yang sesuai. Hal ini seperti langkah pemecahan masalah menurut Polya. 

Tujuan pembelajaran matematika tersebut harus dapat dicapai siswa dengan bantuan guru di kelas yaitu dengan melakukan pendekatan pembelajaran. Pada uraian di atas, disebutkan bahwa salah satu aternatif solusi untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah adalah dengan pendekatan Model-Eliciting Activities (MEAs). 

Tidak jauh berbeda dengan pembelajaran konvensional dan pembelajaran yang menggunkan pendekatan lain, pembelajaran dengan pendekatan Model-Eliciting Activities (MEAs) harus memenuhi standar proses. 

Standar proses pembelajaran tersebut tercantum pada NCTM yang mengamanatkan bahwa proses pembelajaran dari pra-taman kanakkanak sampai kelas 12 harus memungkinkan siswa untuk: 
  1. membangun pengetahuan matematika baru melalui pemecahan masalah, 
  2. memecahkan masalah yang muncul di dalam matematika dan di dalam konteks-konteks yang lain, 
  3. menerapkan dan menyesuaikan bermacam-macam strategi yang sesuai untuk memecahkan masalah, 
  4. memonitor dan merefleksikan proses dari pemecahan masalah matematis (NCTM, 2000: 52). 

Cambourne (Killen, 2009: 3) memberikan definisi tentang belajar, yaitu proses yang melibatkan membuat hubungan, mengidentifikasi pola, dan mengorganisasikan pengetahuan yang dimiliki dengan pengetahuan yang baru menjadi pola pengetahuan baru yang lebih baik. Dalam melakukan proses belajar, siswa membutuhkan waktu yang tidak sebentar sehingga seiring berjalannya waktu ketika siswa melakukan proses belajar, siswa akan memperoleh pengalaman-pengalaman baru. Dari pengalaman-pengalaman tersebut siswa juga belajar mengenai hal yang baru. 

Hal ini sejalan dengan pendapat Mayer (Ambrose, et al, 2010: 3) yang menyatakan bahwa belajar “... occurs as a result of experience and increases the potential for improved performance and future learning.” Pernyataan tersebut dapat kita simpulkan belajar terjadi sebagai hasil dari pengalaman dan meningkatkan penampilan yang potensial dimasa yang akan datang. Meskipun belajar adalah proses, tetapi kita tidak dapat mengamati atau menilai proses belajar yang dilakukan siswa. Hal ini dikarenakan proses belajar ada pada pikiran dan diri seseorang, kita hanya dapat melihat hasil belajar orang tersebut. 

Dart (Killen, 2009: 7) menyatakan bahwa, “learners actively construct knowledge for themselves by forming their own representations of the material to be learned, selecting information they perceive to be relevant, and intepreting this on the basis of their present knowledge and needs”. Dengan demikian, dalam proses belajar, siswa tidak hanya mengumpulkan informasi, tetapi membangun pengetahuan dari informasi yang diperoleh dengan memilih informasi yang saling relevan Menurut Nitko & Brookhart (2007: 18) menyatakan: “Instruction is the process you use to provide students with the conditions that help them achieve the learning targets”. Pembelajaran adalah proses yang anda gunakan untuk mengarahkan siswa dengan kondisi yang membantu mereka mencapai tujuan belajar. 

Peraturan Menteri Pendidikan nasional No. 41 tahun 2007 tentang standar proses dijelaskan pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Chambers (2008: 7) menyatakan bahwa “mathematics is objective fact; a study of reason and logic; a system of rigour; purity and beauty; free from societal influences; self contained; and interconected structure”. Artinya matematika adalah fakta objektif, studi dari penalaran dan logika, sebuah sistem ketelitian, kemurnian dan keindahan; bebas dari pengaruh sosial; mandiri; dan struktur yang saling berkaitan. 

Selain itu, Chambers (2008: 9) menyatakan: “mathematics is the study of patterns abstracted from the world around us so anything we learn in maths has literally thousands of applications, in arts, sciences, finance, health and leisure”. Matematika adalah studi tentang pola diabstraksikan dari dunia di sekitar kita, segala sesuatu yang kita pelajari di matematika memiliki ribuan aplikasi, seni, ilmu, keuangan, kesehatan dan rekreasi. 

Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan yang diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya, sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. Matematika dalam kurikulum pendidikan Dasar dan Pendidikan menengah adalah matematika sekolah. Matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Matematika sekolah tersebut terdiri atas bagian-bagian matematika yang dipilih guna menumbuhkembangkan kemampuan dan membentuk pribadi serta berpadu pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Suherman, et al, 2003: 55-56 ). 

Dari teori-teori di atas, dapat disimpulkan bahwa matematika sekolah adalah kegiatan membangun pengetahuan, konsep dan merefleksikan kemampuan berpikir matematika siswa, termasuk kemampuan memecahkan masalah, berkomunikasi, memberikan alasan, menelusuri hubungan dan membuat pola. Pembelajaran matematika sekolah adalah suatu kegiatan yang dirancang, dilakukan dan dievaluasi oleh guru dan siswa dalam rangka membentuk pengetahuan dan mengembangkan kemampuan matematis siswa. Proses pembentukan pengetahuan tersebut dipengaruhi oleh peran guru sebagai fasilitator yang menciptakan lingkungan kondusif dan meerencanakan pembelajaran yang berkualitas dengan memahami materi matematika, memahami bagaimana siswa belajar dan menggunakan strategi yang sesuai dengan karakter siswa dan karakter materi.