Perilaku Siswa Penggemar Tayangan Korea di Televisi Sebagai Kesadaran Palsu

Menurut Herbert Marcuse dalam Drajat Tri Kartono dan Pajar Indra Jaya, “Bahwa kemajuan teknologi hanya bermanfaat dalam bentuk luarnya saja, namun sejatinya kondisi tersebut menimbulkan kesadaran palsu” (2004:57). Dalam hal ini televisi menghadirkan tayangan-tayangan Korea lewat berbagai stasiun televisi. Tayangantayangan Korea tersebut ditayangkan setiap hari dan dalam sehari lebih dari sekali. Kegemaran siswa melihat tayangan Korea ternyata terus berkembang. 

Kecanggihan teknologi didukung fasilitas yang dimiliki siswa seperti laptop dan modem membuat siswa semakin mudah untuk melihat tayangan Korea. Siswa rela menghabiskan waktu berjamjam di depan layar komputer untuk melihat tayangan Korea atau sekedar browsing tentang Korea di internet. Intensitas siswa melihat tayangan Korea sangat besar sehingga membuat siswa tidak sadar bahwa mereka sebenarnya telah terdominasi oleh teknologi yaitu televisi dan media lain yang menghadirkan tayangan Korea. 

Marcuse dalam Drajat Tri Kartono dan Pajar Indra Jaya juga mengatakan, “Bahwa kebutuhan sekunder atau tersier menjadi kebutuhan sangat primer sehingga manusia akan sakit apabila manusia tidak mampu memenuhinya” (2004:58). Dalam hal ini, bagi siswa penggemar tayangan Korea di televisi, melihat tayangan Korea adalah hal yang penting bagi mereka sehingga siswa tidak ingin ketinggalan acara-acara Korea ketika harus belajar untuk ujian sekolah, bahkan siswa rela mengesampingkan kewajibannya yaitu belajar. 

Keinginan melihat tayangan Korea membuat konsentrasi belajar siswa menjadi terpecah karena siswa tetap memikirkan ingin melihat tayangan Korea ketika sedang belajar, maupun belajar sambil melihat tayangan Korea. Kegiatan belajar di Sekolah juga terganggu karena siswa tidak memperhatikan penjelasan Guru tentang pelajaran dan justru bercerita tentang tayangan Korea bersama temannya. 

Sebenarnya melihat televisi bukanlah kebutuhan primer bagi siswa, namun tayangantayangan Korea yang dihadirkan televisi mampu membuat menonton televisi menjadi kebutuhan primer bagi siswa. Para siswa tidak ingin melewatkan acara kesayangan mereka tersebut sehingga ada rasa kehilangan dan kekecewaan bila mereka melewatkan acara tersebut. 

Kegemaran siswa terhadap tayangan Korea juga diekspresikan melalui beberapa hal. Identitas menyukai budaya pop Korea atau hallyu ditunjukkan lewat kebiasaan siswa menghabiskan uang saku dan uang tabungan untuk membeli majalah, poster, mencetak foto artis Korea, membeli album original, membeli pakaian untuk bergaya seperti artis Korea dan untuk internetan guna men-download segala hal tentang hallyu. 

Marcuse berpendapat, “Bahwa kemampuan untuk mengkonsumsi barang secara bebas sesuai dengan ukuran kantong dianggap suatu bentuk kemerdekaan” (Drajat T.K dan Fajar Hatma I.J, 2004: 59-60). Dalam mewujudkan kegemarannya terhadap hallyu, para siswa harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk ukuran siswa sekolah, namun siswa tidak merasa rugi ketika mereka harus menghabiskan uang saku dan uang tabungan karena siswa mengaku bisa mendapat kesenangan dan kepuasan tersendiri. Mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya mereka telah diliputi oleh kepentingan semu karena membeli barang-barang mahal yang di jelaskan di atas sebenarnya bukanlah kebutuhan sebagai siswa.