-->

Makna Kiasan dalam Teks Cerita atau Novel Sejarah

Melanjutkan materi tentang teks cerita atau novel sejarah sebelumnya. Pada kali ini kita akan menjelasakan makna kias yang terdapat dalam teks cerita atau novel sejarah.

Sama halnya dengan cerpen atau novel yang lain. Novel sejarah juga banyak menggunakan makna kias di dalam penulisannya. Tujuan menggunakan makna kias adalah untuk memperkuat rasa imajinasi atau khayalan para pembaca.


Makna Kiasan dalam Teks Cerita atau Novel Sejarah
Makna Kiasan dalam Teks Cerita atau Novel Sejarah


Di dalam novel sejarah kata kias dapat berupa kata, frasa, ungkapan dan peribahasa. Berikut dijelaskan satu persatu

1. Kata

kata adalah bagian terkecil dalam struktur bahasa tulis. misalnya

- meja

- pensil

- kursi


2. Frasa

Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk makna baru. misalnya 

- Bintang kelas = siswa yang berprestasi

- Buah tangan = oleh-oleh

- Panjang tangan = pencuri


3. Ungkapan

Ungkapan adalah gabungan kata yang membentuk makna baru dan kata dasarnya tidak ada lagi hubungannya dengan kata dasar pembentuknya. Misalnya

- Buah bibir = menjadi pembicaraan orang

- Banting tulang = bekerja keras

- Makan asam garam = berpengalaman


4. Peribahasa

Peribahasa adalah ungkapan atau kalimat yang padat dan ringkas. Ungkapan atau kalimat tersebut berisi perumpamaan, perbandingan, norma hukum di masyarakat dan nasihat yang baik. Misalnya

- Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul = bersama-sama saat suka maupun duka, 


- Setitik nila rusak susu sebelangan = akibat berbuat kesalahan sedikit, maka semua yang baik akan menjadi rusak.


- Bertepuk sebelah tangan = hanya salah satu pihak saja


Kemudian makna kias atau makna konotasi yang terdapat dalam teks cerita atau novel sejarah bisa dilihat sebagai berikut:

1. Bau kemenyan menyebar menyapa hidung siapa pun tanpa kecuali


2. Majapahit memang bisa berada di dalam kekuasaannya, dan kekuasaaan manakah yang lebih tinggi dibandingkan kekuasaan seorang raja.


3. Dalam hati kecilnya bayangan Sang Adipati, yang jelas memberanikan istrinya, antara sebenrar mengawang dan mengancam hendak merobek-robek hatinya.


4. Mampukah Cakradara menjadi tulang punggung mendampingi istrinya menyelenggarakan pemerintahan?


5. Ia tahu benar Tholib Sungkar Az-Zubaid adalah kucing hitam di waktu malam dan burung merak di siang hari.


Lihat Juga