Pengertian Sumber Belajar dalam Pembelajaran

Dalam peristiwa pembelajaran sehari-hari, masih sering ditemukan pelaksana pembelajaran yang tidak dapat membedakan antara berbagai pengertian, media pembelajaran, sumber belajar, alat peraga, alat pelajaran. Semua pengertian itu dianggap sama saja. Oleh karena itu dalam pembahasan kali ini perlu dikemukakan pengertian sumber belajar sesuai referensi-referensi yang dikemukakan oleh para ahli teknologi pendidikan.

Association for Educational Communication and Technology (AECT, 1977) mengatakan bahwa sumber belajar meliputi semua unsure (data, orang, dan barang), yang dapat digunakan oleh peserta didik baik secara terpisah maupun dalam bentuk gabungan, biasanya dalam situasi informal, untuk memberikan fasilitas belajar. Sumber itu meliputi pesan, orang, bahan, peralatan, teknik, dan latar. Sumber belajar dapat dibedakan antara ”by design” , yaitu semua sumber yang secara khusus telah dikembangkan sebagai ”komponen sistem pembelajaran” untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah, dan bersifat formal, serta sumber belajar karena dimanfaatkan (”by utilization”), yaitu sumber- sumber yang tidak secara khusus untuk keperluan pembelajaran namun dapat ditemukan, diaplikasi, dan digunakan untuk keperluan belajar.

Hal yang sama diulang lagi dalam definisi Educational Technology (Januszewski & Molenda, 2008) bahwa sumber-sumber yang digunakan dan diciptakan dalam teknologi pendidikan sering disebut alat, bahan, perlengkapan, latar, dan orang. Dorell (1993) mengatakan bahwa sumber belajar merupakan suatu ungkapan yang digunakan untuk mendeskripsikan mater-materi belajar termasuk video, buku, kaset audio, pelatihan berbasis komputer, program video interaktif, bersama-sama dengan paket belajar yang mengombinasikan media tersebut. Dorell (1993) mengatakan bahwasumber belajar merupakan suatu ungkapan yang digunakan untuk mendeskripsikan materi-materi belajar termasuk video, buku, kaset audio, pelatihan berbasis komputer, program video interaktif, bersama-sama paket belajar yang mengombinasikan media tersebut.


Sumber Belajar ”by design” dan ”by utilization”

Seperti diuraikan di atas bahwa untuk menjelaskan jenis sumber yang tersedia dalam rangka memfasilitasi belajar, AECT (1977) membedakan antara ”resources by design dan resources by utilization”. Hal senada diungkapkan Januszewski & Molenda (2008) bahwa beberapa sumber dapat digunakan untuk memfasilitasi belajar karena secara khusus dirancang untuk tujuan belajar, ini dinamakan ”bahan atau sumber pembelajaran” Sumber-sumber lain yang ada sebagai bagian dari dunia sehari-hari, tetapi dapat ditemukan, diaplikasikan, dan digunakan untuk tujuan-tujuan belajar. Inilah yang kadang-kadang disebut ”sumber-sumber dunia nyata”, beberapa sumber menjadi sumber belajar yang didesain, dan yang lain sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan’ Perbedaan ini penting karena dengan demikian menjadi jelas posisi sumber ”non pembelajaran, dunia nyata”, juga sumber-sumber yang didesain sebagai suatu bidang perhatian teknologi pendidikan.

Tanpa definisi inklusif, ”sumber-sumber dunia nyata” mungkin tidak dipertimbangkan sebagai sumber. Pada definisi 1994, dijelaskan bahwa ”sumber belajar adalah sumber yang mendukung belajar, termasuk mendukung sistem dan bahan-bahan serta lingkungan belajar. Sumber dapat meliputi apapun yang tersedia untuk membantu individu belajar dan berperilaku secara kompeten (Seels & Richey, 1994). Dalam praktek sehari-hari di lapangan, untuk penyusunan silabus sering terjadi kebingungan para perancang pada pengisian kolom ”sumber”. Oleh karenanya sering diisi dengan referensi. (hanya buku-buku yang digunakan dalam suatu proses pembelajaran). Hal ini dapat dimaklumi karena kurang dipahaminya berbagai sumber belajar, baik sumber yang didesain maupun sumber yang dimanfaatkan. Maka pada kesempatan-kesempatan temu sejawat seperti saat inilah berbagai sumber tersebut perlu disosialisasikan. Penggunaan berbagai sumber khususnya ”sumber belajar yang dimanfaatkan” akan memperkaya informasi tentang lingkungan belajar. Apapun keberadaan sumber tersebut, analog atau digital, dirancang atau dimanfaatkan, sumber-sumber itu berperan secara integral dalam memfasilitasi belajar dan peningkatan kinerja.  


Penggunaan Sumber Belajar

Dalam praktek, sumber-sumber analog seperti buku teks, OHP, VCR, masih digunakan secara luas dalam berbagai latar pendidikan, terutama di sekolah-sekolah yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Bahkan di Pendidikan Tinggipun media analog juga masih banyak digunakan. Papan tulis, OHP, berfungsi sebagai pendukung ceramah. Slide fotografi terus digunakan untuk bidang-bidang yang menggambarkan pengertian-pengertian tingkat tinggi seperti, biologi, kedokteran, seni visual. Dengan demikian berarti walaupun perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini begitu pesat, ada kecenderungan guru/ dosen akan terus menggunakan dan mendukung sejumlah media tradisional dengan berbagai argumen, selain alasan untuk bidang-bidang tertentu. 


Pengunaan sumber-sumber yang sesuai

Pada definisi teknologi pendidikan yang baru (Januszewski & Molenda, 2008), istilah sesuai digunakan untuk memodifikasi sumber-sumber yang mengindikasikan bahwa perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan dalam pendidikan harus dipilih dengan mempertimbangkan kecocokan dan kesesuaiannya dengan tujuan pendidikan. Kriteria pertama untuk kesesuaian adalah bahwa sumber itu harus dipilih melalui suatu proses yang menggunakan standar profesional. AECT banyak menyediakan panduan untuk keperluan tersebut, salah satu hal yang paling mendasar adalah hak cipta dan perlindungan legal yang lain tentang hak  milik yang harus diketahui. Banyak pelanggaran-pelanggaran yang terjadi, seperti: pembuatan duplikasi kaset video di luar batas penggunaan yang fair, mendownload bentuk-bentuk visual tanpa izin.

Standar profesional kedua adalah anggota profesi mengikuti prosedur profesional untuk mengevaluasi dan memilih bahan-bahan dan peralatan. Hal ini berkaitan dengan kesesuaian penggunaan dalam pendidikan secara umum. Kriteria lain yang menyangkut politik, sosial, dan budaya, seperti: menghindari materi-materi yang mempromosikan gender, etnis, ras, atau agama. Padahal segi positifnya, meningkatkan penggunaan media yang menekankan pada keberagaman masyarakat yang multi kultural. Bila sumber-sumber itu dipertimbangkan pemanfaatannya dalam proses pembelajaran, juga perlu dipertimbangkan segi keefektifan dan efisiensinya.

Keefektifan berkenaan dengan kecocokan dan kesesuaiannya dengan sumber-sumber yang ada, dengan mempertimbangkan  tujuan pembelajaran khusus, serta kesesuaiannya untuk ligkungan sekitar. Misalnya guru IPS memilih permainan simulasi jika pengalaman yang lalu menunjukkan bahwa hal itu dapat menstimulasi diskusi untuk suatu topik singkat yang ingin dimunculkan.

Efisiensi berkenaan dengan penggunaan waktu dan sumber termasuk usaha ahli teknologi pendidikan itu sendiri. Jika dana terbatas, harus mempertimbangkan perangkat keras dan perangkat lunak yang memberi manfaat terbesar untuk sebagian besar peserta didik atau manfaat terbesar untuk keberhasilan organisasi. 


Sumber-sumber yang berkaitan dengan alat, bahan dan perlengkapan

Dengan berkembangnya teknologi, istilah alat, bahan, dan perlengkapan, digunakan dengan berbagai cara. Alat digunakan untuk menciptakan (memanipulasi bila diperlukan) bahan, yang kemudian diakses dengan perlengkapan. Perlengkapan biasanya lebih sederhana daripada alat, dan terutama sering digunakan terutama untuk mengakses bahan-bahan (Januszewski & Molenda, 2008).. 


Alat, bahan, dan perlengkapan analog

Dalam penggunaan sehari-hari, analog diartikan sebagai sesuatu yang menyerupai (mirip) sesuatu yang lain. Disini, analogi adalah suatu objek atau ide yang digunakan sebagai suatu referensi yang mirip untuk menjelaskan ide yang lain. Gambar televisi analog / sama dengan proyeksi film yang keseluruhan imagenya digambarkan dalam layar untuk tiap bingkai. Juga kaset audio dan kaset video analog media rekaman. Istilah analog digunakan untuk semua media audio vaisual yang tidak digital, seperti slide, film, kset audio, kaset video.


Alat, bahan, dan  perlengkapan digital

Media digital adalah media yang disimpan dan ditransmisikan dengan menggunakan kode digital, biasanya kode-kode berpasangan, misalnya 0 – 1. Tidak seperti media analog, disini representasi media tidak punya kemiripan dengan image maupun suara asli, yang mungkin pada awalnya direkam melalui alat-alat analog. Teknologi pendidikan saat ini bekerja dengan teknologi digital terpadu untuk memfasilitasi belajar dengan lebih baik dan untuk meningkatkan kinerja dalam berbagai latar.


Webquest

Meskipun peserta didik dapat mengakses informasi sangat banyak dari web, namun mereka sering melakukan random atau keterampilan berfikir tingkat rendah. Pengajar dapat menggunakan ”Webquest” untuk membantu siswanya menggunakan Web secara efektif dalam mengumpulkan informasi pada kegiatan-kegiatan yang berpusat pada peserta didik. Webquest berorientasi pada kegiatan inquiry, yang mengharuskan peserta didik mencari informasi dan berinteraksi dengan sumber-sumber dari internet. Peserta didik megikuti serangkaian langkah untuk mengumpulkan informasi dalam mengerjakan tugas. Dodge, 1999 (dalam Smaldino, dkk, 2005) mengemukakan langkah-langkah khusus dalam menjawab pertanyaan, yaitu: 

  1. Pengantar - Suatu skenario untuk isu-isu atau konsep kunci guna mempersiapkan peserta didik menjawab pertanyaan-pertanyaan.
  2. Tugas - Peserta didik mengidentifikasi isu-isu atau problem dan membuat pertanyaan untuk penyelidikan.
  3. Proses – Dalam suatu kelompok, peserta didik mengambil peranan dan mulai mengidentifikasi prosedur yang akan diikuti untuk mengumpulkan informasi guna menjawab pertanyaan mereka.
  4. Sumber - Sumber diidentifikasi oleh pengajar dan peserta didik untuk menggali penyelidikan mereka.
  5. Kesimpulan – Inilah akhir dari penyelidikan, tetapi mengundang peserta didik untuk melanjutkan penyelidikan tentang isu-isu dan problem-problem berikutnya. Penyelidikan sering diakhiri dengan evaluasi proses serta hasil belajar


Lingkungan sebagai sumber belajar

Salah satu komponen sumber belajar yang dikemukakan AECT adalah lingkungan, latar, atau konteks. Tepatnya pengorganisasian konteks dimana terjadi kegiatan-kegiatan pemecahan masalah, peningkatan kinerja, merupakan komponen penting dalam perencanaan pembelajaran yang baik. Konteks, meliputi lingkungan internal seperti, kelas, laboratorium, maupun lingkungan eksternal seperti museum, kebun binatang.  Akhir-akhir ini, teori belajar konstruktivistik berkembang luas dalam usahanya untuk mengorganisasikan lingkungan yang autentik, kompleks, dan memperkaya informasi belajar. Apapun lingkungan yang menterjadikan belajar dan kinerja, baik internal maupun eksternal, sederhana atau kompleks, kemampuan mengorganisasikannya secara tepat menjadi sangat penting bagi para profesional eknologi pendidikan.

Lingkungan masyarakat seperti museum, perpustakaan, kebun binatang, rumah sakit, dll, dapat membuka wawasan peserta didik pada contoh-contoh nyata tentang  konsep-konsep dan ide-ide yang dipelajari di dalam kelas. Untuk merealisasikan interaksi peserta didik dengan lingkungannya, dilakukan dengan mengadakan kunjungan ke lokasi-lokasi tersebut melalui field trip. Smaldino (2005) mendeskripsikannya sebagai suatu kunjungan ke luar sekolah untuk mempelajari proses-proses serta objek-objek riil yang dialami peserta didik melalui pengalaman langsung. Untuk maksud yang sama dengan field trip konvensional, virtual field trip dimungkinkan dengan teknologi, yang menyajikan kenungkinan menggali berbagai lokasi, yang sebaliknya akan menjadi mahal bila dilakukan dengan kunjungan langsung. Sumber-sumber teknologis untuk virtual field trip termasuk one way video, two way video teleconferencing, forum diskusi online,


Orang sebagai sumber

Jenis berikutnya sebagai sumber belajar adalah “orang”.  Staf pendukung dan ahli bidang studi sering sebagai sumber untuk pengajar dan peserta didik. Orang-orang tersebut  memiliki pengetahuan luas dan pengalaman banyak berkaitan dengan sumber-sumber belajar yang menjadi spesialisasinya. Mereka ini sering dimanfaatkan sebagai fasilitator ketika dibutuhkan oleh peserta didik karena luas pengetahuan dan pengalamannya. Pada suatu saat seseorang mungkin sebagai resources by design, namun pada kasus lain, mungkin sebagai resources by utilization.