-->

Klasifikasi dan Morfologi Ikan Tongkol (Auxis thazard)

Menurut Djuhanda, (1981), Ikan tongkol tergolong ikan Scombridae, bentuk tubuh seperti betuto, dengan kulit yang licin . Sirip dada melengkung, ujungnya lurus dan pangkalnya sangat kecil. Ikan tongkol merupakan perenang yang tercepat diantara ikan-ikan laut yang berangka tulang. Sirip-sirip punggung, dubur, perut, dan dada pada pangkalnya mempunyai lekukan pada tubuh, sehingga sirip-sirip ini dapat dilipat masuk kedalam lekukan tersebut, sehingga dapat memperkecil daya gesekan dari air pada waktu ikan tersebut berenang cepat. Dan dibelakang sirip punggung dan sirip dubur terdapat sirip-sirip tambahan yang kecil-kecil yang disebut finlet. Menurut Anonim (1979), ikan tongkol mempunyai ciri – ciri badan memanjang kaku, bulat seperti cerutu, memiliki dua sirip punggung. Sirip punggung pertama berjari – jari keras 10, sedangkan yang kedua berjari jari keras 11 diikuti 6 – 9 jari – jari tambahan. Sirip dubur berjari – jari lemah sebanyak 14 diikuti 6 – 9 jari – jari sirip tambahan. Terdapat satu lidah atau cuping diantara sirip perutnya. Badan tanpa sisik kecuali pada bagian korselet yang tumbuh sempurna dan mengecil di bagian belang. Satu lunas kuat diapit dua lunas kecil pada daerah sirip ekornya.

Menurut Tabrani (1997), secara anatomi komposisi ikan tongkol terdiri atas : 

  1. Tulang – tulang antara lain : tulang belakang, tulang kepala, tulang iga, dan tulang sirip. 
  2. Otot, sebagian besar terdiri dari otot putih dan sebagian kecil pada permukaan terdiri atas otot merah. 
  3. Kulit dan sirip 
  4. Viscera, usus dan termasuk didalamnya saluran kencing yang merupakan factor utama penyebab pembusukkan. 

Selain dari segi anatomi, komposisi ikan tongkol berdasarkan bagian protein dan lemaknya : mengandung lemak 36,0%, protein 11,3%, air 52,5%, dan mineral 0,53%.

Daerah Penyebaran Ikan Tongkol (Auxis thazard)

Ikan tongkol (Auxis thazard) merupakan ikan golongan pelagis besar yang memiliki sifat bergerombol, Ikan tongkol biasanya membentuk schooling pada waktu ikan tersebut dalam keadaan aktif mencari ikan. Menurut Djamal (1994), ikan tongkol lebih aktif mencari makan pada waktu siang hari daripada malam hari. Ikan tongkol akan banyak muncul bila keadaan mendung dan hujan rintik – rintik. Ikan tongkol biasannya memakan ikan – ikan kecil seperti ikan teri dan cumi – cumi..

Jenis ikan tongkol mempunyai daerah penyebaran yang sangat luas, umumnya mendiami perairan – perairan pantai dan oseanik (Blackburn, 1965). Secara umum distribusi ikan tongkol dibagi atas dua macam penyebaran, yaitu penyebaran secara horizontal atau penyebaran menurut lintang dan penyebaran secara vertikal atau penyebaran menurut kedalaman. Faktor utama yang mempengaruhi penyebaran ikan, yaitu

  1. Ikan – ikan tersebut berusaha untuk mencari daerah yang kaya akan makanan,
  2. Ikan – ikan tersebut berusaha untuk mencari daerah pemijahan yang sesuai dan
  3. arena adanya perubahan beberapa faktor lingkungan seperti temperature, salinitas dan arus.

Kondisi oseanografi yang mempengaruhi migrasi ikan tongkol yaitu suhu, salinitas, kecepatan arus, oksigen terlarut, kandungan fosfat dan ketersediaan makanan. Sedangkan faktor oseanografi yang langsung mempengaruhi penyebaran ikan tongkol adalah arus, suhu, dan salinitas (Hela dan Laevastu, 1970). Hal tersebut sesuai dengan yang dinyatakan Gunarso (1985), bahwa ikan tongkol sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan salinitas. Ikan tongkol pada umumnya menyenangi perairan panas dan hidup dilapisan permukaan sampai pada kedalaman 40 meter dengan kisaran optimum antara 20 - 28°C. 

Penyebaran ikan tongkol sering mengikuti sirkulasi air. Demikian pula kepadatan populasinya pada suatu perairan, sangat berhubungan dengan pola arus tersebut. Pada umumnya jenis-jenis tuna mempunyai penyebaran di sepanjang poros arus dan mempunyai kelimpahan yang besar (Blackburn, 1965).

Parasit dan Parasitisme

Parasit adalah merupakan organisme yang hidup pada organisme lain yang mengambil makanan dari tubuh organisme tersebut, sehingga organisme yang tempatnya makan (inang) akan mengalami kerugian. Menurut Grabda (1991), parasit adalah organisme yang hidup di dalam atau pada organism lain yang biasanya menimbulkan bahaya terhadap inangnya. Berdasarkan habitatnya pada inang, parasit dapat dibedakan menjadi parasit eksternal (ektoparasit) dan parasit internal (endoparasit). Ektoparasit hidup pada permukaan tubuh inang atau tempat-tempat yang sering terbuka seperti mulut dan insang. Endoparasit hidup dalam tubuh inang, yaitu organ dalam dan jaringan. Kelompok organisme parasit yang berada diantara ektoparasit dan endoparasit disebut sebagai mesoparasit. 

Berdasarkan sifat ketergantungannya pada inang, organisme parasit dikelompokkan menjadi parasit fakultatif dan obligat. Parasit fakultatif adalah organisme yang dapat hidup ada atau tanpa inang, sedangkan parasit obligat adalah organisme yang seluruh siklus hidupnya bergantung kepada inang secara mutlak. Organisme parasit yang bersifat parasit terhadap parasit yang lain disebut hiperparasit. Protozoa Nosema dollfusi adalah organisme yang hiperparasit terhadap Trematoda Buchephalus cuculus yang merupakan parasit pada Oyster di Amerika (Cheng, 1973). 

Parasitisme adalah hubungan dengan salah satu spesies parasit dimana inangnya sebagai habitat dan merupakan tempat untuk memperoleh makanan atau nutrisi, tubuh inang adalah lingkungan utama dari parasit sedangkan lingkungan sekitarnya merupakan lingkungan keduanya (Kabata, 1985).

Menurut Cropton (1971) dalam Anshary (2008), parasitisme merupakan suatu bentuk hubungan ekologi antara dua organisme, yang satu disebut parasit dan yang lainnya disebut inang. Selanjutnya ditambahkan bahwa sifat - sifat esensial yang dimiliki hubungan tersebut adalah :

  1. Adanya ketergantungan fisiologi parasit terhadap inangnya,
  2. Inang yang terinfeksi berat akan mengalami kematian
  3. Distribusi frekuensi parasit pada populasi inang umumnya overdispers yang berarti bahwa varians (S2) dari populasi parasit jauh lebih besar di banding dengan rata-rata (X) populasi parasit

Beberapa golongan parasit yang bersifat ektoparasit antara lain adalah ciliate, beberapa flagellate, monogenea, copepod, isopod, branchiuran dan lintah. Sedangkan endoparasit adalah yang ditemukan pada organ bagian dalam inang. Golongan parasit yang masuk endoparasit antara lain adalah Digenea, Cestoda, Nematoda, Acantocephala, Coccidian, Microsporidia, dan Amoeba (Anshary, 2008).

Menurut Mollers dkk., (1986), salah satu penyakit parasit yang sering menyerang ikan adalah Nematoda yang kebanyakan sebagai Endoparasit, Secara umum infeksi endoparasit nematoda hanya menimbulkan kondisi patologis yang ringan, bahkan pada kondisi lingkungan yang normal gejala klinisnya kurang dapat di deteksi dengan jelas. Walaupun ikan yang terinfeksi cacing tidak menimbulkan kematian, akan tetapi dapat mengakibatkan menurunnya fekunditas inang, dan meningkatkan kerentanan terhadap patogen lain, serta dapat mengakibatkan kerusakan jaringan pada usus.