Pengelolaan Kelas Dalam Rangka Proses Belajar Mengajar

Pengelolaan Kelas Dalam Rangka Proses Belajar Mengajar
Sekolah adalah untuk anak didik. Tugas utama pendidik (guru) adalah mengusahakan agar setiap anak didik dapat belajar dengan efektif; baik secara individual ataupun secara kelompok. Artinya, mereka patut merasa betah atau merasa senang belajar di sekolah dan mereka dapat mencapai prestasi belajar yang tinggi. Meskipun banyak tempat untuk anak melakukan kegiatan belajar, sesungguhnya filosofi kehadiran sekolah sepatutnya dipandang sebagai tempat terbaik bagi terjadinya proses belajar dan bagi pencapaian prestasi belajar yang tinggi itu. 

Kelas merupakan segmen sosial dari kehidupan sekolah secara keseluruhan. Gairah proses belajar dan semangat pencapaian prestasi belajar yang tinggi, amat tergantung pada pembiasaan sehari-hari atas kehidupan yang terjadi di antara guru dan para anak didiknya di dalam kelas. Karena itu manajemen atau pengelolaan atas kelas merupakan hal utama dalam menunjang terciptanya proses belajar yang menyenangkan dan pencapaian prestasi belajar yang tinggi itu. Kondisi dan kehidupan kelas kita di tingkat pendidikan dasar, khususnya pada Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah masih memprihatinkan. 

Penampilan fisik kelas yang anak-anak tinggali setiap harinya nampak kurang kondusif atas penciptaan kondisi belajar yang diinginkan. Meja, kursi atau bangku yang mereka duduki kurang sesuai dengan kebutuhan belajar mereka. Kebiasaan bersih, indah dan tertib dalam membuang sampah belum terciptakan dari dalam kelas secara kuat. Kelas-kelas kita di antaranya masih belum asri, bahkan semrawut dan kotor. Sentuhan tangan untuk penataan kelas dari orang-orang yang berkepentingan atas pendidikan anak amat terbatas.

Guru-gurupun untuk sebagian di antaranya bekerja dengan caranya yang typical (asal melaksanakan tugas rutin) tanpa mempedulikan apakah kelasnya itu menyenangkan bagi anak atau tidak. Konsep-konsep yang mendasari terwujudnya interaksi di dalam kelas terasa masih miskin. Manipulative learning materials belum menjadi kepedulian guru dalam mengusahakan linkungan belajar yang lebih menyenangkan. Pengetahuan psikologis kontemporer guru-guru belum terlihat dalam hubungan implementasi kurikulum dan penciptaan lingkungan belajar. Selain itu, dukungan birokrasi dan kepemimpinan setiap sekolah belum sepenuhnya muncul. 

Kelas-kelas kita akhirnya menjadi kurang menarik dan bahkan menjemukan sehingga anak nampak terbelenggu dalam kerangkeng status quo pekerjaan guru/para pendidik. Kelas-kelas kita mesti berubah ! Berubah menjadi lebih baik; lebih bermutu dan lebih menyenangkan anak-anak! Presentasi dan diskusi melalui naskah ini, diharapkan mendorong para peserta pelatihan memperoleh pemaknaan kembali mengenai arti pentingnya pengelolaan kelas sebagai pendukung terjadinya gairah proses belajar dan pencapaian prestasi belajar yang tinggi. Secara lebih khusus melalui kegiatan pelatihan ini, diharapkan akan diperoleh bekal pengetahuan yang berkaitan dengan pengertian, tujuan, prinsip, pendekatan dan prosedur pengelolaan kelas dalam situasi proses belajar mengajar.

KONSEP DASAR PENGELOLAAN KELAS
1. Arti Kelas.
Seorang guru sering kurang menyadari mengenai banyaknya kejadian yang melingkupi kehidupan kelasnya. Kelas bukanlah sekedar sekumpulan anak yang melakukan kegiatan belajar di bawah tanggung jawab guru dan semata-mata dibatasi oleh keempat dinding/tembok pembatas. Kelas sesungguhnya merupakan lingkungan yang kompleks dan berbagai peristiwa bisa terjadi. Berikut merupakan aspek-aspek kehidupan kelas dari Doyle (1986) dalam Good dan Brophy (1991: 2) yang patut dipelajari guru terutama untuk bertindak selaku managers:
  • Multidimensionality. Terdapat tugas yang berbeda dan berbagai peristiwa muncul di kelas. Laporan kegiatan belajar dan jadwal penyelesaiannya mesti dapat guru kendalikan. Saat anak bekerja haruslah terkontrol. Pekerjaannya harus dapat dikumpulkan dan dievaluasi. Satu peristiwa tertentu sering membawa berbagai akibat. Saat guru menunggu seorang anak untuk menjawab satu pertanyaan saja, pertanyaan lain dari anak lainnya bisa muncul. Hal itu dapat memberi pengaruh positif tetapi tidak mustahil memberi pengaruh negatif sehingga kegiatan belajar anak berlangsung lambat sampai waktunya beristirahat.
  • Simultaneity. Berbagai kejadian secara bersamaan sering pula muncul di dalam kelas. Saat suatu diskusi berlangsung, seorang guru tidak hanya mendengarkan dan membantu anak memberikan jawaban tetapi juga guru dituntut untuk memperhatikan anak lainnya yang tidak memberikan respon agar suasana kelas tetap terkendali dan berlangsung kondusif dan efektif.
  • Immediacy. Langkah dari berbagai peristiwa yang terjadi di kelas sesungguhnya berlangsung cepat. Setiap anak umumnya menghendaki respon yang cepat atas kebutuhan belajarnya. Mengevaluasi keterlibatan anak dalam proses pengajaran, dalam satu jam saja, guru sangat mungkin harus melakukannya beberapa kali. Tuntutan untuk memperhatikan kegiatan belajar anak secara individual dan beralih pada kegiatan anak secara kelompok/klasikal, akan terus silih berganti dalam frekuensi yang tinggi dan berlangsung cepat.
  • Unpredictable and public classroom climate. Berbagai peristiwa sering muncul di dalam kelas melalui cara yang tidak terduga oleh guru. Apa yang terjadi pada diri anak tertentu sering dapat dilihat dengan cepat oleh anak-anak yang lain, tetapi tidak dengan cepat dapat dipelajari guru. Anak-anak sering pula dapat menangkap apa yang guru rasakan menyangkut tindakannya atas anak lain, dan mereka memberi respon yang tidak terduga terhadap gurunya. Interaksi demikian sering membentuk suatu iklim kelas yang kurang menyenangkan dan tidak lagi kondusif atas proses pengajaran.
  • History. Setelah suatu penyelenggaraan pengajaran berlangsung beberapa minggu atau beberapa bulan, norma-norma yang berlaku umum di kelas terbentuk dan berbagai pengertian berkembang. Peristiwa yang muncul di awal tahun menjadi pembuka (bisa positif atau negatif) bagi terjadinya peristiwa-peristiwa berikutnya. Selanjutnya, hal itu berpengaruhi atas fungsi kelas di akhir tahun.
Mengingat hal di atas, maka kelas sepantasnya dipandang sebagai tempat untuk tumbuh dan berkembangnya semua potensi anak. Karena itu kelas sepantasnya dikelola dengan baik sehingga nyaman dan menyenangkan bagi kegiatan belajar anak. Kelas septutnya rapi, bersih, sehat, tidak lembab, cukup cahaya, adanya sirkulasi udara, perabotnya tertata baik, dan jumlah siswanya tidak terlalu banyak.

Untuk menunjang kenyamanan dan rasa senang anak dalam belajar, selain berbagai aspek kehidupan kelas di muka harus dipahami guru, juga beberapa hal berikut tidak boleh luput dari perhatian mereka, seperti tata ruang kelas, dan perabotnya: papan tulis dan penghapusnya, meja kursi guru, meja kursi anak, lemari kelas, jadwal pelajaran, papan absensi, daftar piket kelas, kalender pendidikan, gambar-gambar, tempat cuci tangan dan lap tangan, tempat sampah, sapu lidi, sapu ijuk, sapu moceng, pajangan pekerjaan anak, kapur, dan lain-lainnya.

2. Pentingnya Pengelolaan Kelas.
Sesungguhnya keberhasilan pengajaran tidaklah dapat dipisahkan dari keseriusan usaha dan semangat guru mengelola kelasnya. Good dan Brophy (1991: 2) mensinyalir bahwa kegagalan guru mengembangkan potensi dirinya dalam pengajaran bukanlah karena mereka tidak menguasai mata pelajaran tetapi mereka itu tidak mengerti siapa murid-muridnya dan apa kelas itu sesungguhnya.

Leinhardt dan Smith (1985) dikutip Good dan Brophy (1991) menyimpulkan adanya dua pengetahuan yang patut dipahami guru agar pengajaranya lebih efektif, yaitu 
  1. Subject matter knowledge, dan
  2. Action-system knowledge. 
Yang pertama mencakup informasi spesifik yang dibutuhkan untuk menyajikan isi pelajaran, sedangkan yang kedua menyangkut pengetahuan siapa dan bagaimana anak belajar dan berkembang; bagaimana kelas dikelola; bagaimana informasi/konsep diterangkan; dan bagaimana tugas-tugas secara efektif diberikan. Menoleh dasar psikologis anak untuk kepentingan pengelolaan kelas. Kita bisa saja berdiskusi panjang lebar: apakah guru-guru pada MI. dan MTs. selama ini memahami betul siapa anak didik itu ? 

Dengan kata lain, dilihat dari perkembangan fisiknya/motoriknya, sosial/emosi/moralnya, dan bahasanya/kognisinya, siapakah mereka itu sebenarnya? Lalu bagaimana mereka itu belajar ? Ambil saja satu contoh bahwa anak usia MI itu secara sosial sedang berkembang kompetensi-kompetensi sosialnya yang positif dan produktif, seperti kemampuan bekerjasama, kesadaran kompetisi, menghargai karya orang lain, toleran, kekeluargaan, dan perkembangan aspek budaya lainnya (Johar: 1998/1999). Dalam hubungan ini prinsip yang relevan untuk suatu pengelolaan kelas adalah guru setiap harinya menyediakan kesempatan untuk anak bekerja/belajar secara kelompok. 

Coba kita pikirkan lebih lanjut, lebih detail dan mungkin lebih radikal: bentuk meja-kursi atau bangku yang bagaimanakah yang memungkinkan anak belajar secara kelompok setiap harinya di dalam kelas itu ? Apakah bentuk bangku (meja-kuri yang disatukan konstruksinya) yang keras dan berat, terbuat dari kayu jati warisan pengaruh Zaman Penjajahan Belanda itu masih relevan untuk memenuhi tuntutan kegiatan belajar kelompok anak ? Saya lebih suka mengatakan bentuk bangku semacam itu sebagai bangku zaman tai kotok di lebuan ! Artinya, bangku itu sudah out of date !

Hal lain yang mendesak patut guru pahami adalah bagaimana anak itu sesungguhnya belajar ? Ambil satu pandangan yang lebih kontemporer (faham konstruktivistik) dari Piaget ! Piaget berpendapat bahwa anak itu seorang pelajar yang aktif. Mereka membentuk atau menyusun pengetahuan mereka sendiri pada saat mereka menyesuaikan pikirannya; sebagaimana terjadi ketika mereka mengeksplorasi lingkungannya untuk kemudian tumbuh pemikiran-pemikiran logisnya (Johar: 1998/1999). Pendapat di atas mengisyaratkan antara lain bahwa guru penting memberi kebebasan kepada anak; dan kelas sepatutnya merupakan lingkungan yang dapat dieksplorasi anak secara efektif. 

Pertanyaan kritis lain bisa diungkapkan: apakah guru-guru yang masih feodalistik mampu berubah dan ikhlas memberi kebebasan kepada anak didiknya untuk belajar melalui eksplorasi lingkungan ? Lingkungan kelas yang bagaimana yang memberi kebebasan dan memungkinkan anak melakukan eksplorasi semacam itu ? Apkah kelas-kelas yang typical dengan meja-kursi yang berderet dan miskin akan manipulative learning materials bisa kondusif atas gairan proses belajar dan pencapaian prestasi belajar yang tinggi ? Satu hal lagi: Bagaimana respon kita atas pendapat Power (1976) yang dikutip Good dan Brophy (1991) tentang adanya tipe anak di dalam kelas ? Kenyataan itu tentu saja menghendaki adanya perlakuan-perlakuan guru yang variatif dalam mengembangkan metodologi pengajaran sekaligus pengelolaan kelasnya. 

Silahkah renungkan !
  • Successful students. Anak bertipe ini berorientasi pada tugas dan sukses secara akademik dan bersifat kooperatif. Mereka itu selalu berpartisipasi aktif dalam pengajaran, selalu ingin melengkapi dan mengoreksi tugas-tugasnya serta kreatif dalam merespon masalah-masalah disiplin. Mereka itu menyukai sekolahnya dan disukai guru-guru dan teman-temannya.
  • Social students. Anak dengan tipe ini lebih berorientasi secara sosial daripada berorientasi tugas. Mereka memiliki kemampuan untuk mencapai suatu prestasi dengan cara berteman daripada mengerjakan tugasnya. Mereka cenderung lebih banyak teman dan menjadi populer di kalangan teman-temannya. Namun demikian, anak-anak tipe ini kadang kurang disukai guru-guru karena frekuensi sosialisasi mereka menimbulkan masalah manajemen.
  • Dependent students. Anak tipe demikian memandang guru sebagai pihak yang suka memberi dukungan dan bantuan. Mereka sering meminta tambahan penjelasan dan pertolongan lebih dari yang lain. Guru-guru umumnya peduli atas kemajuan belajar naak-anak demikian dan bersedia memberi bantuan berikutnya. Teman-temannya kadang cemburu dan menolak kehadiran mereka karena mereka dipandang tidak matang secara sosial.
  • Alienated students. Tipe ini menunjukkan anak yang malas hingga potensial untuk tinggal kelas atau drop-out. Secara ekstrim anak demikian menolak untuk bersekolah dan berbagai hal yang diwajibkan sekolah kepadanya. Beberapa di antara mereka mengembangkan permusuhan dan menciptakan kekacauan melalui agresi dan penyerangan. Mereka kadang menduduki jari kedua tangannya di kelas dan menolak untuk berpartisipasi. Guru biasanya menolak anak yang memiliki tipe ini dan bersikap acuh tak acuh atas ekspresi pasif mereka.
  • Phantom students. Tipe anak demikian memiliki latar belakang yang kurang menguntungkan. Merekapun kurang mendapat perhatian keluarganya, sehingga kadang mereka itu pemalu, sering ketakutan, gugup dan berdiam diri. Mereka bekerja namun tidak responsif atau aktif. Merekapun bukan sukarelawan tetapi juga mereka bukan pencipta kekacauan. Mereka itu pasif ! Guru dan teman-temannya biasanya tidak mengetahui bahwa kondisi mereka sekalipun mereka itu anak baik atau berpikir untuk berinteraksi dengannya.
Dasar psikologis di atas sengaja disinggung untuk menunjukkan betapa hal itu memiliki implikasi langsung terhadap pekerjaan guru mengelola kelasnya. Brooks dan Brooks (1993: 17) mengembangkan dasar psikologis itu ke dalam pemahaman paradigma kontras antara traditional classrooms dan constructivist classrooms.

3. Missi dan Tujuan Pengelolaan Kelas 
Jelas kiranya bahwa dasar psikologis itu menekankan kepentingan pendidikan anak. Oleh karenanya missi utama yang dikembangkan untuk mengelola kelas yang efektif adalah (1) tersedianya lingkungan belajar yang mendukung gairah proses belajar dan (2) banyaknya keterlibatan (waktu yang dihabiskan) anak dalam aktivitas belajar sehingga mendukung pencapaian prestasi belajar yang tinggi.

Adapun tujuan pengelolaan kelas dikemukakan Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen (1996) yang dikutip Rachman (1998/1999: 15), adalah:
  • Mewujudkan kondisi kelas baik sebagai lingkungan belajar ataupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan berkembangnya kemampuan masing-masing siswa.
  • Menghilangkan berbagai hambatan yang merintangi interaksi belajar yang efektif.
  • Menyediakan fasilitas atau peralatan dan mengaturnya hingga kondusif bagi kegiatan belajar siswa yang sesuai dengan tuntutan pertumbuhan dan perkembangan sosial, emosional dan intelektualnya.
  • Membina perilaku siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya dan keindividualannya.
4. Arti Pengelolaan Kelas. 
Kali ini kita mencoba mendiskusikan arti pengelolaan kelas. Tentu saja banyak pengertian atau definisi mengenai pengelolaan kelas ini. Namun demikian, dari beberapa pengertian berikut (FIP IKIP Bandung: 1999), kirta-kira manakah pengertian pengelolaan kelas yang menurut bapak/ibu/saudara paling berkenan ?
  • Pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas.
  • Pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa.
  • Pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk memgembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan.
  • Pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan hubungan soio-emosional kelas yang positif.
  • Pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif.
Selanjutnya, kemukakanlah alasan mengapa pengertian yang satu itu dipilih bapak/ibu/saudara? Berdasarkan pengertian pengelolaan kelas yang telah diuraikan di muka, maka pengelolaan kelas yang ditampilkan seorang guru dapat lebih bersifat otoritatif, demokratis atau bersifat laissez-faire. Sifat penampilan pengelolaan kelas ini bukanlah menunjukkan baik-buruknya penampilan guru dalam mengelola kelas. 

Baik-buruk pengelolaan kelas itu sepatutnya terkait dengan masalah efektivitas dan efektivitas pengelolaan kelas tersebut amat tergantung pada unsur-unsur yang dipelajari. Mari kita berdiskusi soal efektivitas pengelolaan kelas yang mungkin ditampilkan guru dengan menganalisis unsur kematangan si anak, perilaku anak dalam pencapaian tujuan dan sifat situasi yang dihadapi. Memperhatikan hasil analisis di atas, maka akan diperoleh pengertian pengelolaan kelas yang pluralistik. 

Pengertian demikian menerangkan bahwa pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan, mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim sosio-emosional yang positif serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif dan produktif. Semua pengertian pengelolaan kelas di muka berlaku.

PRINSIP-PRINSIP PENGELOLAAN KELAS
Kita mulai dengan beberapa asumsi untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum suatu pengelolaan kelas yang baik. Asumsi berikut dikembangkan oleh Good dan Brophy (1991: 199), yaitu:
  1. Anak-anak itu suka mengikuti aturan karena memang mereka itu mengerti dan menerimanya.
  2. Masalah disiplin kelas dapat dikurangi manakala si anak terlibat secara teratur dalam aktivitas (belajar) yang bermakna yang mendorong minat dan sikapnya.
  3. Manajemen atau pengelolaan (kelas) hendaklah lebih didekati dari tujuan memaksimalkan atau menghabiskan banyaknya waktu anak untuk terlibat dalam kegiatan produktif; daripada mendasarkan pada sudut pandangan yang negatif menekankan pengawasan atas perilaku anak yang menyimpang, dan
  4. Tujuan guru adalah mengembangkan self control dalam diri anak dan bukan semata-mata melakukan pengawasan yang menekan atas diri mereka.
Berdasarkan asumsi-asumsi di atas, dapatlah dikembangkan prinsip-prinsip pengelolaan kelas sebagai berikut:
  1. Bahwa setiap aturan dan prosedur yang mengikat dan ditempuh haruslah direncanakan terlebih dahulu sebelum hal itu dapat dillangsungkan.
  2. Aturan-aturan yang ditetapkan dan prosedur yang ditempuh itu harus jelas dan dibutuhkan.
  3. Biarkan anak mengasumsikan tanggung jawabnya secara independent.
  4. Kurangi gangguan dan keterlambatan atau penundaan.
  5. Rencanakan kegiatan belajar yang independent atau individual dan juga kegiatan belajar kelompok.
Prinsip-prinsip lainnya dikembangkan Bolla (1985: 5-6), yaitu:
  1. Dalam setiap kegiatan pengelolaan kelas (termasuk belajar mengajar), antusias dan kehangatan guru harus ditunjukkan 
  2. Setiap tutur kata, tindakan dan tugas-tugas yang diberikan kepada anak menantang; tidak menimbulkan kebosanan tetapi justeru menimbulkan gairah belajar yang produktif.
  3. Penggunaan variasi dalam alat, media, metoda dan gaya berinteraksi adalah kunci sukses pengelolaan kelas.
  4. Kewaspadaan akan jalannya proses kegiatan belajar-mengajar dari kemungkinan terjadinya berbagai gangguan mengharuskan guru bersikap dan bertindak luwes.
  5. Biasakanlah pemusatan pikiran secara positif dan menghindar pada hal-hal yang negatif.
  6. Pengelolaan kelas tidak bisa lepas dari kepentingan anak untuk berdisiplin atas dirinya sendiri. Karena itu guru sepantasnya berdisiplin pada dirinya sendiri agar di hadapan anak menjadi teladan.
PENDEKATAN DALAM PENGELOLAAN KELAS
Beberapa pendekatan untuk pengelolaan kelas yang dapat dipelajari dari berbagai sumber, dapatlah dikemukakan paling tidak mencakup pendekatan perubahan tingkah laku, pendekatan penciptaan iklim sosio-emosional, pendekatan proses kelompok, dan pendekatan eklektik (Entang, Joni, dan Prayitno: 1985).

1. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku (Behavior Modification).
Pengelolaan kelas menurut pendekatan ini mendasarkan pada asumsi bahwa: (1) semua tingkah laku anak, yang baik atau yang kurang baik, merupakan hasil proses belajar, dan (2) terdapat proses psikologis yang fundamental untuk menjelaskan terjadinya proses belajar yang dimaksud.

Adapun proses psikologis yang dimaksudkan itu adalah: 
  1. Penguatan positif atau positive reinforcement, 
  2. Hukuman, 
  3. Penghapusan, dan 
  4. Penguatan negatif atau negative reinforcement. 
Menurut pendekatan ini, untuk membina suatu tingkah laku anak yang dikehendaki maka guru dituntut untuk memberi penguatan positif atau memberi dorongan positif sebagai ganjaran dan guru dituntut pula untuk memberi penguatan negatif yakni menghilangkan hukuman atau stimulus negatif. Selanjutnya untuk mengurangi tingkah laku yang tidak dikehendaki, guru dituntut untuk menggunakan hukuman atau pemberian stimulus negatif, dan melakukan penghapusan atau pembatalan pemberiaan ganjaran.

2. Pendekatan Penciptaan Iklim Sosio-Emosional (Socio-Emotional Climate).
Penelolaan kelas menurut pendekatan ini mendasarkan pada asumsi bahwa: 
  1. Proses pengajaran yang efektif mensyaratkan iklim sosio-emosional yang baik atau adanya jalinan hubungan inter-personal yang baik di antara pihak yang terlibat dengan proses pengajaran itu, dan 
  2. Guru merupakan key-person dalam pembentukan iklim sosio-emosional yang dimaksudkan. 
Banyak saran yang dapat dipelajari guna membantu guru menciptakan iklim soio-emosional yang kondusif bagi efektivitas pengajaran. Namun demikian beberapa hal yang dianggap penting adalah sikap dan kebiasaan guru untuk tampil jujur, tulus dan terbuka; bersemangat, dinamis dan enerjik. Hal lainnya adalah kesadaran diri; menerima dan mengerti siapa anak didiknya dengan penuh rasa simpati. Selain itu yang tidak kurang pentingnya adalah keterampilan berkomunikasi secara efektif, kemampuan mengambil keputusan dengan cepat dan akurat, kemampuan mengembangkan prosedur pemecahan masalah, kemampuan mengembangkan rasa tanggung jawab sosial, dan kemampuan mengembangkan iklim dan suasana belajar yang demokratis. terbuka

3. Pendekatan Proses Kelompok (Group Processes).
Pengelolaan kelas menurut pendekatan ini mendasarkan pada asumsi: 
  1. Pengalaman belajar (bersekolah) berlangsung dalam konteks atau kelompok sosial, dan 
  2. Tugas guru yang pokok adalah membina dan kelompok yang produktif dan kohesif.
Di antara banyaknya saran yang patut diperhatikan dalam pendekatan ini, Schmuck dan Schmuck yang dikutip Entang, Joni dan Prayitno (1985) berpendapat bahwa unsur-unsur pengelolaan kelas dalam rangka pendekatan proses kelompok mencakup: 
  1. Harapan yang timbal balik yang realistik dan jelas antara siswa dan guru, 
  2. Kepemimpinan yang mengarahkan kegiatan kelompok untuk pencapaian tujuan-tujuan, 
  3. Pola dan ikatan persahabatan terbentuk yang mendukung kelompok semakin produktif, 
  4. Terdapat pemeliharaan norma kelompok yang semakin produktif, menggantikan norma yang kurang produktif, 
  5. Terjalin komunikasi yang efektif antar anggota kelompok yang terlibat, dan 
  6. Terdapat derajat keterikatan yang terhadap kelompok secara keseluruhan (cohesiveness).
4. Pendekatan Eklektik.
Pendekatan ini mendasarkan pada pemahaman atas adanya kekuatan dan kelemahan dari kesemua pendekatan di muka. Pendekatan eklektik lebih menunjukkan suatu penggunaan kombinasi dari beberapa pendekatan ketimbang menggunakan satu pendekatan secara utuh. Jadi dalam prakteknya, guru itu menggabungkan semua aspek terbaik dari pendekatan-pendekatan yang digunakannya yang secara filosofis, teoritis dan psikologis dibenarkan (Rachman, 1998/1999: 79). 

Oleh karena itu menurut dia syarat yang perlu dipenuhi guru dalam menerapkan pendekatan ini, adalah: 
  1. Menguasai pendekatan-pendekatan pengelolaan kelas, dan 
  2. Dapat memilih pendekatan yang tepat dan melaksanakan prosedur yang sesuai dengan masalah pengelolaan kelas yang dihadapi.
PROSEDUR PENGELOLAAN KELAS
Prosedur itu merupakan langkah-langkah yang dapat dilakukan guru dalam mengelola kelas. Prosedur ini menyangkut dimensi pencegahan (preventif) dan dimensi pengatasian/penyembuhan (kuratif).

1. Prosedur Dimensi Pencegahan 
Prosedur pencegahan merupakan tindakan yang dilakukan guru dalam mengatur anak didik, lingkungan dan peralatan kelas, serta format pembelajaran sehingga mendukung terhdap suasana belajar yang menyenangkan dan pencapaian prestasi belajar yang tinggi. Dengan kata lain, prosedur pencegahan ini menyangkut segala tindakan guru sebelum tingkah laku yang menyimpang dan mengganggu proses pengajaran muncul. Keberhasilan dalam tindakan pencegahan merupakan salah satu indikator keberhasilan manajemen kelas. Konsekuensinya adalah guru dalam menentukan langkah-langkah dalam rangka manajemen kelas harus merupakan langkah yang efektif dan efisien untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Adapaun langkah-langkah pencegahannya (Rahman : 1998) sebagai berikut :

a. Peningkatan kesadaran diri sebagai guru
Langkah peningkatan kesadaran diri sebagai guru merupakan langkah yang strategis dan mendasar, karena dengan dimilikinya kesadaran ini akan meningkatkan rasa tanggung jawab dan rasa memiliki yang merupakan modal dasar bagi guru dalam melaksanakan tugasnya. Implikasi adanya kesadaran diri sebagai guru akan tampak pada sikap guru yang demokratis, sikap yang stabil, kepribadian yang harmonisdan berwibawa. Penampakan sikap seperti itu akan menumbuhkan respon dan tanggapan positif dari peserta didik.

b. Peningkatan kesdaran peserta didik
Interaksi positif antara guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran terjadi apabila dua kesadaran (kesadaran guru dan peserta didik) bertemu. Kurangnya kesadaran peserta didik akan menumbuhkan sikap suka marah, mudah tersinggung, yang pada gilirannya memungkinkan peserta didik melakukan tindakan-tindakan yang kurang terpuji yang dapat mengganggu kondisi optimal dalam rangka pembelajaran. Untuk meningkatkan kesadaran peserta didik, maka kepada mereka perlu melaksanakan hal-hal berikut : 
  1. Memberitahukan akan hak dan kewajibannya sebagai peserta didik, 
  2. Memperhatikan kebutuhan, keinginan dan dorongan para peserta didik, 
  3. Menciptakan suasana saling pengertian, saling menghormatidan rasa keterbukaan antara guru dan peserta didik.
c. Sikap jujur dan tulus dari guru
Guru hendaknya bersikap jujur dan tulus terhadap peserta didik. Sikap ini mengandung makna bahwa guru dalam segala tindakannnya tidak boleh berpura-pura bersikap dan bertindak apa adanya. Sikap dan tindak laku seperti itu sangat membantu dalam mengelola kelas. Guru dengan sikap dan kepribadiannya sangat mempengaruhi lingkungan belajar, karena tingkah laku, cara menyikapi dan tindakan guru merupakan stimulus yang akan direspon atau diberikan reaksi oleh peserta didik. Kalau stimuli itu positif maka respon atau reaksinya juga positif. Sebaliknya akalu stimuli itu negatif maka respon atau rekasi yang akan muncul adalah negatif. Sikap hangat, terbuka, mau mendengarkan harapan atau keluhan para siswa, akrab dengan guru akan membuka kemungkinan terjadinya interaksi dan komunikasi wajar antara guru dan peserta didik.

d. Mengenal dan mengenal alternatif pengelolaan
Untuk megenal dan menemukan alternatif pengelolaan, langkah ini menuntut guru : 
  1. Melakukan tindakan identifikasi berbagai penyimpangan tingkah laku peserta didik yang sifatnya invidual maupun kelompok. Penyimpangan perilaku peserta didik baik individual maupun kelompok tersebut termasuk penyimpangan yang disengaja dilakukan peserta didik yang hanya sekedar untuk menarik perhatian guru atau teman-temannya., 
  2. Mengenal berbagai pendekatan dalam manajemen kelas. Guru hendaknya berusaha menggunakan pendekatan manajemen yang dianggap tepat untuk mengatasi suatu situasi atau menggantinya dengan pendekatan yang dipilihnya, 
  3. Mempelajari pengalaman guru-guru lainnya yang gagal atau berhasil sehingga dirinya memiliki alternatif yang bervariasi dalam menangani berbagai manajemen kelas.
e. Menciptakan kontrak sosial
Penciptaan kontrak sosial pada dasarnya berkaitan dengan “standar tingkah laku” yang diharapkan seraya memberi gambaran tentang fasilitas beserta keterbatasannyadalam memenuhi kebutuhan peserta didik. Pemenuhan kebutuhan tersebut sifatnya individual maupun kelompok dan memenuhi tuntutan dan kebutuhan sekolah. Standar tingkah laku ini dibentuk melalui kontrak sosial antara sekolah/guru dan peserta didik. Norma atau nilai yang turunnya dari atas dan tidak dari bawah, jadi sepihak, maka akan terjadi bahwa norma itu kurang dihormati dan ditaati. 

Oleh sebab itu, dalam rangka mengelola kelas norma berupa kontrak sosial (tata tertib) dengan sangsinya yang mengatur kehidupan di dalam kelas, perumusannya harus dibicarkan atau disetujui oleh guru dan peserta didik. Kebiasaan yang terjadi dewasa ini bahwa aturan-aturan sebagai standar tingkah laku berasal dari atas (sekolah/guru). Para peserta didik dalam hal ini hanya menerima saja apa yang ada. Mereka tidak memiliki pilihan lain untuk menolaknya. Konsekuensi terhadap kondisi demikianakan memungkinkan timbulnya persoalan-persoalan dalam pengelolaan kelas karena para peserta didik tidak merasa turut membuat serta memiliki peraturan sekolah yang sudah ada tersebut. 

2. Prosedur Dimensi Pengatasian/Penyembuhan 
Prosedur pengelolaan kelas yang bersifat kuratif merupakan tindakan yang dilakukan guru sebagai respon untuk mengatasi tingkah laku anak yang menyimpang atau mengganggu itu. Dalam hal ini, guru dituntut untuk berusaha menumbuhkan kesadaran anak dan tanggung jawab memperbaiki tingkah lakunya sehingga yang bersangkutan bisa kembali berpartisipasi aktif dalam pengajaran. Usahan yang bersifat penyembuhan (kuratif) mengikuti langkah-langkah berikut:

a. Mengidentifikasi masalah
Mengidentifikasi masalahda langkah ini, guru mengenal atau mengetahui masalah-masalah pengelolaan kelas yang timbul dalam kelas. Berdasar masalah tersebut guru mengidentifikasi jenis penyimpangan sekaligus mengetahui latar belakang yang membuat peserta didik melakukan penyimpangan tersebut.

b. Menganalisis masalah
Pada langkah ini, guru menganalisis penyimpangan peserta didik dan menyimpulkan latar belakang dan sumber-sumber dari penyimpangan itu Selanjutnya menentukan alternatif-alternatif penanggulangannya.

c. Menilai alternatif pemecahan masalah
Pada langkah ini guru menilai dan memilih alternatif pemecahan masalah yang dianggap tepat untuk menanggulangi masalah.

d. Mendapatkan balikan
Pada langkah ini guru melaksanakan monitoring, dengan maksud menilai keampuhan pelaksanaan dari alternatif pemecahan yang dipilihuntuk mencapai sasaran yang sesuai dengan yang direncanakan.Kegiatan kilas balik ini dapat dilaksanakan dg denganngadakan pertemuan dengan para peserta didik.Maksud pertemuan perlu dijelaskan oleh guru sehingga peserta didik mengetahui serta menyadari bahwa pertemuan diusahakan dg dengannuh ketulusan, semata-mata untuk perbaikan, baik untuk peserta didik maupun sekolah.